Dua puluh satu April, satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari yang diperingati sebagai hari kebangkitan wanita Indonesia.
Selamat! Selamat Hari Kartini! Selamat untuk wanita Indonesia!
Pada hari yang bersejarah ini, aku mau mengajak teman-teman yang kebetulan membaca tulisan ini untuk sedikit berkhayal. Andaikata Kartini seorang blogger. Blogger? Why blogger?
Raden Adjeng Kartini, yang kita kenal merupakan pahlawan Indonesia yang berjuang dengan tulisan-tulisannya. Well, seperti yang tertulis di Intisari edisi April ini, meskipun tulisan-tulisan bersejarah itu ia buat lebih dari satu abad lalu, pesannya masih relevan dengan kondisi bangsa kita saat ini. Bangsa yang merdeka, namun tetap terbelenggu.
Beberapa hari yang lalu aku membeli dan membaca majalah yang sebenarnya nggak terlalu rutin aku baca tiap bulan. Majalah Intisari, mungkin banyak yang tau majalah ini. Intisari mulai edisi Januari 2011 hingga Desember 2013 menampilkan kembali artikel-artikel yang telah dimuat bertahun-tahun sebelumnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperingati 50 tahun Intisari. Dan untuk edisi April kali ini, ditampilkan sebuah artikel yang pernah dimuat pada edisi April 1984. Wah, jauh sebelum kita lahir.
Nah, pada edisi itu, judul artikel yang dimuat adalah, Andaikata Kartini Menjadi Anggota DPR. Kira-kira judul itulah yang menginspirasi tulisan ini. Andaikata Kartini seorang blogger.
Intisari edisi April 1984 memuat salah satu tulisan Kartini yang diberi judul “Berilah Orang Jawa Pendidikan”. Berikut sedikit potongan tulisan Kartini yang pernah dimuat di Intisari edisi lawas itu:
Sebagai ibu, wanita adalah pendidik pertama umat manusia. Sebab di pangkuannya-lah anak mulai belajar merasai, berpikir, dan berbicara. Tangan ibunya-lah yang mula-mula menaruh benih pengertian baik dan buruk di hati anak, yang tidak jarang akan menetap seterusnya pada manusia.
Tapi bagaimana ibu Jawa bisa mendidik anak-anak mereka jika mereka sendiri tidak terdidik? Kekuatan mendidik justru mesti datang dari keluarga.
Berilah orang Jawa bacaan yang ditulis dengan bahasa yang merakyat, artinya bisa dimengerti setiap orang. Jangan khotbah atau pidato. Jangan koran yang memberitakan kebakaran, pencurian, pembunuhan dan penggunjingan yang memburuk-burukkan orang lain dan mengunggul-unggulkan diri.
Sedapat mungkin murid dirangsang cinta mereka kepada kesusastraan. Orang-orang muda itu biarlah memikirkan dan kemudian diberi kesempatan berikutnya menuangkan pikirannya. Jangan ditertawakan jika mereka mencanangkan teori yang aneh-aneh. Tapi bantulah mereka, bimbinglah mereka dengan kasih sayang yang lembut dan tegas. Jika mereka ditertawakan, seterusnya mereka akan tutup mulut diikuti tutup hati. Seperti sudah sering dikatakan, tugas guru rangkap: pengajar dan pendidik. Tanggung jawab kependidikan mereka juga rangkap: di bidang akal dan bidang pekerti.
Nah, sekarang mari kita berkhayal. Andaikan di zaman Kartini berjuang, internet sudah ada. Atau bahkan andaikata Kartini hidup di zaman sekarang, dan ia menulis nota-nota protesnya itu di sebuah blog miliknya. Ah, mungkin blognya Raditya Dika bisa kalah tenar dari blognya Kartini. Dan pastinya, tulisan-tulisan di blognya adalah tulisan-tulisan berbobot yang bukan sekedar cerita-cerita kosong belaka. Tulisan-tulisan yang bakal menggelitik bangsa kita yang sedang tertidur lelap ini. Ah, seandainya…
Untuk teman-teman blogger wanita, siapkah kamu menjadi Kartini di zaman blog?
[diolah dari Intisari edisi April 2011, dengan pengubahan]
[image source: http://anto84.blogdetik.com/