Dalam perspektif gerakan Islam, paling tidak ada 3 “rezim” yang berkuasa dalam organisasi kemahasiswaan di IPB. Kenapa rezim? karena ketiga gerakan Islam inilah yang cukup bersuara di IPB. Ketiga rezim ini memiliki perspektif yang berbeda meskipun memiliki nuansa yang sama, yakni ke”Islam”an, meskipun pada prakteknya seringkali terjadi friksi-friksi karena perbedaan perspektif dalam gerakannya.
Rezim pertama adalah rezim yang dikomandoi oleh Gerakan Dakwah Masjid, dan rezim inilah yang selama dasawarwa terakhir “berkuasa” di organisasi kemahasiswaan IPB. Bisa dilihat dari berapa banyak “kader”nya menguasai tampuk pimpinan di BEM dan DPM di IPB. Paling tidak, sejak tahun 1999 hingga sekarang presiden BEM, ketua DPM dan ketua MPM dari kalangan rezim ini.
Diakui atau tidak, pimpinan rezim ini tidak mampu merangkul semua elemen kemahasiswaan yang ada. Buktinya, banyak bermunculan organisasi-organisasi kemahasiswaan yang baru di IPB. Bukti lain adalah sepinya ajang pemilihan presiden KM IPB, karena mahasiswa IPB sudah mulai “bosen” dengan dinamika kemahasiswaan yang ada di IPB yang sudah dapat ditebak siapa yang bakal “menang”. Jika di bilang demokrasi, maka ini menjadi “demokrasi semu”.
Munculnya UKM-UKM baru tidak hanya menunjukkan dinamika kemahasiswaan yang tinggi, tetapi juga menggambarkan bahwa rezim yang saat ini berkuasa tidak mampu mewadahi semua stakeholder yang ada di IPB. Jika mengutip pendapat James Scott tentang “senjatanya orang-orang kalah”, saya dapat menduga bahwa strategi ini untuk melawan para status qua yang berkuasa.
…bersambung ke bagian 2…



Sehari setelah peringatan Hari Kartini, 22 April 2011 menjadi giliran untuk Hari Bumi. Setelah seharian kita diingatkan akan perjuangan wanita Indonesia, pada hari ini, 22 April 2011, kita kembali didengung-dengungkan seruan untuk mencintai lingkungan, mencintai bumi.







