Archive | Kampus

Tags: ,

Mengapa Berbuat Baik?

Posted on 03 February 2012 by Ahmad Alkadri

Ini ada cerita dari zaman saya SMA dulu. Waktu itu adalah hari Senin, seperti biasa sebagaimana hari Senin lainnya di sekolah saya, kami melaksanakan Upacara. Anak-anak kelas 10 masuk terlebih dahulu ke lapangan, langsung baris rapi, disusul oleh anak-anak kelas 11, dan kelas 12. Kemudian adalah para guru dan staf. Semua petugas sudah di tempatnya, [...]

Comments Off

bloggerIPB greenTV

Kopdar bloggerIPB dihadiri menteri

Posted on 20 January 2012 by agung sudomo

kopdar bloggerIPB

Suasana Kopdar

Ada yang berbeda pada kopdar (Kopi Darat) bloggerIPB kali ini. Kopdar kali ini dihadiri dua orang mentri dari BEM KM IPB (menteri Sosling dan menteri Kominfo) yang hadir dalam kopdar yang diadakan pada tanggal 18 januari 2012 di Bumbu Wangi Resto. Walaupun dua pejabat penting di kalangan mahasiswa IPB ini tidak hadir dengan agenda khusus tapi merupakan suatu kehormatan bagi bloggerIPB bisa berbincang-bincang dengan mereka.

Selain kehadiran dua pejabat penting, kopdar kali ini juga terasa berbeda dengan kehadiran Green TV IPB yang meliput jalannya kopdar. Mendadak beberapa blogger didaulat untuk menjadi artis yang diwawancarai reporter green TV. Setelah beberapa kali diulang, akhirnya proses syuting untuk green TV selesai.

Selain membahas masalah internal bloggerIPB, kopdar kali ini juga membahas isu SOPA/PIPA yang sedang hangat dibicarakan di internet. Kopdar kali ini juga membahas tentang rencana peluncuran e-Book tentang bloggerIPB. Peluncuran buku elektronik ini rencananya akan dilaksanakan pada bulan feburari 2012.

Jay terus bloggerIPB!

website bloggerIPB

Kopdar sambil buka bloggeripb.org

bloggerIPB greenTV

latihan dulu sebelum syuting

green tv meipt bloggerIPB

lagi syuting

Comments (5)

Ironi di Etalase IPB

Posted on 28 December 2011 by freedomguyz

Mungkin buat para mahasiswa IPB tak asing lagi dengan carut marutnya perparkiran di IPB.mulai dari motor di asrama TPB yang KATANYA mau dijatah
150 motor saja tapi kenyataannya sekarang astra udah full banget sama motor,dan semester depan pasti yang bawa motor masih nambah lagi,padahal sudah cape-cape daftarin motor dari zaman matrikulasi ke BPA. Ada juga kasus banyaknya tempat parkir motor illegal yang tidak dijaga oleh unit keamanan kampus (UKK) yang disebabkan karena tempat parkir yang disediakan IPB tidak muat dan juga jauh dari pusat kegiatan mahasiswa. Akibatnya?? bulan September kemarin kabarnya sekitar 20an motor hilang di sekitar IPB,termasuk daerah sekitar kampus juga bukan hanya di dalam kampus.

Ada juga masalah tentang tempat parkir yang memungut bayaran untuk motor,padahal seharusnya gratis. Mereka melakukannya dengan menimpa tulisan gratis di tiket dengan nama tempat parkir tersebut.kalo sudah begitu kan orang ragu ini tempat parkir gratis atau bayar. Lucunya Tapi soal dipungut bayaran ini hanya kendaraan motor yang notabene digunakan oleh mahasiswa/orang luar kampus yang berpendapatan pas-pasan,sedangkan mobil hanya ditarik bayaran ketika memasuki IPB saja. Untung saja sekarang sudah banyak tempat parkir yang sudah berubah,seperti tempat parkir perpustakaan sekarang menerapkan parkir gratis 7-16,sisanya bayar seperti yang diterapkan di FPIK dan FKH, dan juga tempat parkir ilegal seperti di FATETA sudah dijaga oleh UKK.
Sangat disayangkan tempat yang belum berubah ternyata adalah rektorat yang notabene merupakan etalase dari IPB. Orang luar IPB bisa saja dengan contoh kecil seperti ini menganggap bahwa banyak pungli di IPB yang bisa merendahkan harkat IPB di mata masyarakat.Saya mengerti mungkin gaji UKK itu tidak seberapa,tapi daripada karena seribu dua ribu bisa menghancurkan reputasi IPB,maka mungkin sebaiknya khusus di rektorat AHN parkir disuruh membayar saja dengan tarif yang jelas,supaya UKK disana mendapat tambahan penghasilan,tidak mungkin kan soalnya banyak yang parkir di rektorat sampai malam,berbeda dengan tempat parkir lain.
From freedom-By freedom-For freedom
Freedomguyz

Comments (0)

Tags:

Hanya, Bukan.

Posted on 18 December 2011 by Pararang

“Don't cry because it's over, smile because it happened.” ( Dr. Seuss, American Writer and Cartoonist)Kutipan manis dan cukup bijak untuk sebuah akhir. Meskipun kali ini InsyaAllah tidak akan ada...

tentang kesenangan: yang penting senang, tenang kenyang.

Comments Off

Tags: ,

Delegasi IPB Hadiri Acara Televisi GEMARI

Posted on 01 December 2011 by freedomguyz

Bogor- IPB mengirimkan 25 mahasiwa untuk menghadiri acara televisi Gemari (Gerakan Masyarakat Mandiri) di gedung TVRI,Jumat (25/11) lalu. Acara yang disiarkan langsung oleh TVRI Nasional tersebut membahas tema posdaya (pos pemberdayaan masyarakat) untuk solidaritas bangsa dan hari disabilitas internasional yang diperingati pada tanggal 3 Desember 2011. IPB diundang sebagai tamu kehormatan karena pada sabtu (19/11) lalu telah mengadakan konvensi posdaya tingkat Jawa Barat-Lampung dan juga rektor IPB Prof. Dr. Herry Suhardiyanto ,MSc. menjadi salah satu bintang tamu di acara tersebut.

Delegasi IPB berangkat pada pukul 16.30 menggunakan bis IPB ber-AC yang disediakan oleh pihak rektorat. Mahasiswa yang menjadi delegasi adalah panitia IPB social and healthcare 2011 yang mayoritas adalah angkatan 48 serta beberapa badan pengurus harian (BPH) BEM KM termasuk presiden mahasiswa Muhammad Reza Pahlevi.

Acara GEMARI dimulai pukul 21.00 dan selesai pukul 23.00. Acara itu dihadiri para penggiat posdaya,penyandang disabilitas,dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi seperti IPB,UI,Widuri,UNJ,dan STIEK. Di acara tersebut IPB mendapat kehormatan sebagai satu-satunya perguruan tinggi yang mendapat tempat di round table.Acara GEMARI di bawakan oleh Prof. Haryono Suyono dan Dewi Hughes,serta mengundang miss deaf internasional,rektor IPB dan rektor UNJ.

Acara ini berhasil membuat rektor IPB dan UNJ berjanji bahwa kampus mereka akan melakukan pembinaan posdaya secara berkelanjutan dan juga mengirim mahasiswa-mahasiswa ke daerah terpencil untuk membantu masyarakat disana. Tidak hanya itu,acara ini juga membuat berbagai pihak seperti RRI dan TVRI berjanji akan memperingati hari disabilitas nasional dengan mengadakan gerak jalan besar-besaran.

Salah seorang mahasiswa IPB,Viola (Silvikultur 48) mengaku acara ini sangat bermanfaat bagi dirinya.”Acara ini menyadarkan saya bahwa penyandang disabilitas ternyata tidak selalu menjadi beban keluarga dan bisa mandiri”.(KK/Adhiet)

Comments Off

Tags: ,

Mosquito attack in Bogor Agricultural University;why and how to overcome the problem

Posted on 24 November 2011 by freedomguyz

By Adhiet Yogi Utomo (C14110009) BDP 48

As we know that Bogor Agricultural University (BAU) have a big population of mosquito in the campus. from the class room, forest, garden, student center and the dormitory. each year in the rainy season there are so much dengue fever diseases report at the dormitory. many students lost their chances to study about 1-2 weeks because this diseases. And what can we do for solving this problem?

Dragonfly is exactly what we need here.we can see that it's a weird things that in a big biodiversity campus like BAU there are less dragonfly.dragonfly, also known as mosquito hawks is an important control agent for mosquito. Dragonfly larvae (naiads) eat the larvae in water storage as well as adult dragonflies hunt and eat adult mosquitoes, especially the Asian tiger mosquito that flies by day. fogging mosquito can make matters worse and increase the tempo of the mosquito population in the long term if it is to eliminate natural enemy of mosquito dragonflies and other predators.

I got some opinion about why dragonfly almost extinct in our lovely campus. First, there must be a big fogging in the past in our campus, after fogging the quantity of mosquito is being reduced, but other insect like dragonfly died too because of fogging. so in the long term the mosquito population become bigger and bigger like what happen in this day, and because the low quality of water in some lake in BAU.

Indonesia alone has 750 species from a total of 5000 species of dragonflies in the world. Even that boast endemic species found in the area of ??Sulawesi are Gynacantha penelope Aeshnidae subfamily. Until now synonymous with the dragonfly with hedge trees, beautiful and clean rivers. Dragonfly rarely or hardly found in the heavy polluted region and dense urban areas. This relates to the life cycle of dragonflies that can not be far away from water. Dragonfly eggs are placed in a safe in the water, usually in leaf blades of water plants. Female dragonflies lay their eggs only in the waters clean and pollution free. Dragonfly larvae will live as well as developing in the bottom waters and experience the metamorphosis heterometabola into nymphs. The next phase, dragonfly nymphs can only survive in an aquatic environment clean. On the other hand, nymphs also play a role in eating mosquito larva that can transmit dangerous diseases like malaria & dengue fever. That is, the presence of dragonflies can be used as bioindicator to monitor water quality in the environment around us.[Anonymous,2011]

I think that we have some solution to bring back natural ecosystem stability back in BAU, because it will make many advantages for our lovely campus.first the mosquito population will be back to stability which not harm human so much,and it will be a precious gems for BAU if we have big quantity of dragonflies that will look so wonderful and add more value for BAU agrotourism program.

First,we can take dragonflies from other places that have many quantities of dragonflies like in cianjur, malang, and other places that have fresh non-polluted water, maybe about 500-600 dragonflies enough for the start . And we must choose dragonfly species that suitable to live in temperature and weather of BAU.

Second, we must revitalize pond and lake in BAU. It's not only useful for esthetics’ function and decoration function but it's an absolute condition for dragonfly to reproduce and we must add water plant at the ponds or lake.

Third, stop fogging in BAU.BAU have a huge quantities of insect, not only mosquito. If we fogging the BAU,it's like using nuclear weapon to kill an ant. It has very devastated effect, if not die, the larvae of insect will be weakened so there is a big chance that the natural balance will be disturbed.

And the last point from me, don't forget to do the classical way. We must control the mosquito vectors, is the drain bath / shelter, closing tightly water shelter, bury the cans containers, battery containers and tires containers around the campus, and building improvement design and the most important thing, make BAU to be a clean campus.

If we do all the things stated above .I am sure that we will not have to worry about mosquito attack and our campus will be greater and greater so we will proud to say that we are from Bogor Agricultural University ,a World Class University.


Glossary
muslimahsakura90.wordpress.com/.../spirit-pertanian-lokal-dan-kelestarian-capung/

Comments Off

Tags:

Serunya Turun Desa !

Posted on 21 November 2011 by Lisa_92


Tiada hari tanpa manfaat. Mungkin motto ini harusbener-bener diterapkan ya, *mottonya siapa? gue? bukan ! :p

Yah, apapun lah, selama pernyataan itu bersifatpositif, gak ada salahnya dijalankan kan?
Seperti hari ini, Minggu 20-11-2011 (tanggalnyakeren ya), gue dan teman-teman dari Himalogin berkesempatan untuk melakukankegiatan Turun Desa. Apa itu?

Turun desa adalah suatu kegiatan di mana paramahasiswa turun langsung ke desa-desa untuk menyalurkan ilmu (apapun itu) yangdiperoleh dari dunia kampus dan dapat diaplikasikan serta dirasakankemanfaatannya oleh masyarakat desa. Hari ini, secara serentak sekitar 1500mahasiswa dari departemen yang berbeda di IPB melakukan kegiatan yang sama, didesa yang berbeda pula. Desa yang menjadi tujuan kami ialah desa Puraseda, dikawasan Leuwiliang, Bogor.

Pada kesempatan ini, kami dari Himalogin (khususnyadepartemen Pengabdian Masyarakat) mengangkat topik pelatihan pembuatan gulasemut dan minuman empon-empon instan. Maka berangkatlah kami beramai-ramai menggunakan2 angkot dan beberapa sepeda motor dengan berbekal alat-alat seperti : kompor,wajan, ayakan, nampan, dll. Perjalanan dimulai pukul 7.00. butuh waktu sekitar2 jam untuk mencapai desa tersebut. Ditambah lagi akses ke desa yang cukupsulit, membuat kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sambilmenenteng peralatan melewati pematang sawah, kali, tanah becek, dan rumah-rumahwarga, selama kurang lebih 30 menit. Lumanyan ! xD

look at this,


Sesampainya di tempat yang dituju, kentara sekalisuasana pedesaan yang masih kental. Hamparan sawah hijau, suara gemericik air,semilir angin berhembus, udara yang segar, alunan khas musik sunda, serta logatmasyarakat yang benar-benar ndeso (sunda banget !). Can you imagine that ?!

hmmm...

Setelah berbasa-basi dengan bapak RW setempat danmengumpulkan peserta pelatihan dari warga sekitar, acara pun dimulai. Tepatpukul 10.30. Peserta tampak cukup antusias pada apa yang disampaikan olehpemateri. Ketika pembuatan gula semut dan minuman berlangsung, tak sedikitwarga yang ikut mengerjakan tiap tahapan prosesnya. Hal ini menunjukkan bahwawarga cukup mengapresiasi kegiatan ini dengan baik.

saat pelatihan

Pukul 14.30, kegiatan pun kami akhiri. Warga yangmengikuti pelatihan tampak cukup puas dengan apa yang telah mereka dapatkan.Kami pun lega karena kegiatan ini berlangsung cukup baik, walaupun tetap sajaada koreksi di sana sini (wajarlah, mahasiswa. Masih belajar.. hhe..). Setelahmerapikan peralatan, kami berpamitan kepada warga desa dan memulai perjalananuntuk kembali pulang.

Dan sebenarnya, di sinilah cerita bermula.

….


Sedikit trauma dengan perjalanan sebelumnya yangcukup jauh dan menghabiskan waktu lama, kami berinisiatif mengambil rute pendekdengan menyeberangi kali dan melewati sawah. Namun, kondisi setelah hujanmembuat air kali naik dan alirannya cukup deras. Serem juga lah, kalo mestingelewatin kalinya.. masalahnya, beberapa dari kami tetap ingin menempuh rutependek tersebut, dengan keyakinan gak bakal ada halangan berarti yang menantidi depan sana (eeaaa….). hhaha.. tinggallah gue dan seorang temen kelas gueserta dua orang tetua yang biasa kami sapa : kakak, yang ragu untukmenyeberangi kali deres itu.
Petualangan pun dimulai. Berbekal keberanian, tanpapemandu, kami berempat bertekad keluar dari desa itu dengan cara yang lebihaman. Lalalalala cukup panjang perjalanan yang harus kami tempuh. Hinggaakhirnya kami dipertemukan dengan seorang anggota rombongan yang bawa motor.Syukurlah, artinya gak nyasar kan, hhahaha….. :D
            guetunggu di depan ya. Ikutin jalan aja terus" begitu katanya.
Maka kami terus berjalan, tak kenal lelah, demimenemukan jalan keluar.
Tapi yang namanya capek, ya mau gimana lagi. Begitumelihat pematang sawah di samping jalan, kami memutuskan untuk melalui sawah,mengambil rute terpendek yang bisa kami tempuh. Tapi di situ asiknya ! malahbisa jalan sambil foto-foto, dan gue punya satu foto keren di tengah sawah :

lumanyan,
Keren kan? xD

Sejauh itu perjalanan masih lancar. Tapi ternyata didepan ada jembatan bambu yang menanti. CUMA JEMBATAN BAMBU ! tanpa tali ataukayu yang bisa dipegangin di kiri kanannya. Keliatannya sih biasa aja ya, temengue yang awalnya rada takut, jadi bisa ngelewatin jembatan itu. Tapi gue? Yangawalnya ngeyakinin diri kalo gue bisa, malah jadi ciut setelah beberapalangkah. Tiba-tiba kaki gue kaku, gak bisa digerakin setelah menghayatiderasnya arus air di bawah jembatan itu. Lu bayangin aja, rasanya seolah-olahangin yang berhembus bisa bikin elu tiba-tiba tumbang dan nyemplung ke kali,kebawa arus air yang gak tau ujungnya dimana. Dan gue stak di tengah ! maumundur gak bisa.. maju gak berani. Pemuda macam apa itu? *bah,

Akhirnya, setelah melalui saat-saat galau, gue bisamelewati jembatan dengan bantuan uluran tangan tetua yang udah nyebrang duluan. 
eeaaa...


dan tetap keren,
STAY COOL !

Makasi uluran tangannya kakaaaak….. kalo gak, gak tau deh gimana nasib guesekarang, apa masih berdiri di tengah jembatan dengan kondisi kaki yang kaku,badan menggigil, sambil menunggu air kali jadi kering biar aman diseberangi.Ngenes.

Perjalanan pun dilanjutkan. Setelah tiba di gapuradesa, ternyata kami telah ditunggu oleh 4 ojek-ojekan (soalnya bukan ojekbeneran) untuk diantar ke tempat pemberhentian angkot. Malunya gueeeeee… diojekinsama praktikan sendiri.. aduh emaaaak… -____-“’ tapi mau gimana lagi,kondisinya kepepet dan bakal ngerepotin kalo gue maksa jalan kaki sampe finish.
Haaaah.. akhirnya sampai juga di tempatpemberhentian angkot. Di sana udah ada 2 angkot yang menunggu. Dan kamiberempat adalah rombongan yang datang PALING AKHIR, asik deh, ditunggu-tunggu…hhhahaha… *devil, :p

Langsung saja kami memasuki angkot, dan bersiapmelalui perjalanan panjang, kembali ke Kampus Hijau, Institut Pertanian Bogor.

Udah? Gitu ajaendingnya? Hyaaaah…. Gue kiraaa…. -,-

Eits, belum closingstatement ya, (gayaaa…)
Intinya, yang gue dapet dari kegiatan ini, jadimanusia yang bermanfaat itu rasanya luar biasa ! ada kebahagiaan tersendirikalo apa yang udah elu transfer ke orang lain ternyata bermanfaat bagi orangtersebut. Yang gak kalah keren adalah, gue bersyukur banget bisa ngerasainsaat-saat jalan di pematang sawah, di jembatan (yang kalo kata gue serem), danyang lainnya lah, soalnya jarang-jarang bisa kaya’ begitu.. :D 

berasa petualangan sherina tau gak (pilem jaman guekecil dulu). Trus juga salut aja sama warga karena bisa bertahan dengan kondisidesa yang aksesnya keluar minim dan sulit. Hemhh.. semoga suatu saat nanti adasolusinya ya… :)


Comments Off

Tags:

.sepot suram.

Posted on 14 November 2011 by Lisa_92

Setiap kampus mungkin punya spot-spot angker sendiri. Begitu pula kampus gw. Di kampus merah tercinta ini, yang gw yakin civitasnya adalah orang-orang intelek, gw menemukan satu tempat yang gw rasa bisa dibilang : angker.
apa itu?

MAU TAU?
MAU TAU?
MAU TAU?




inilah spot yang gw maksud :





You-Know-What



oke, kenapa gw sebut angker?
begini kawan.

mahasiswa tak lepas dari kebutuhan kopi-mengopi. Entah itu tugas, proposal, laporan (laporan?) :p
di kampus gw (tepatnya fakultas gw), spot itulah yang kami andalkan dalam urusan ini.
seperti pada siang ini, gw dan seorang teman (sebut saja melati) harus menyerahkan proposal kegiatan yang dirangkap tiga. maka yang dibutuhkan adalah, jasa penjilidan. *loh kok? ya sudahlah. pokoknya begitu.

masalahnya, gw gak begitu suka mendatangi tempat ini. sejujurnya bapak-bapaknya gala*. entah kenapa auranya gak enak. suram kalo kata gw mah.
dan siang ini, gw dan si melati harus mengalami kejadian tak menyenangkan.

melati : pak, ini dijilid ya. tapi yang ini dicopot dulu terus diganti yang ini pak.
tiba-tiba ada seorang mahasiswa lain disebelah kami yang menyerobot antrian. melati pun terabaikan (lagipula memang badannya agak 'mungil', *peace).
melati : ih, si bapak mah. sebel gw da. senggol bacok. (muka bersungut-sungut)
gw : (diem)

maka kami pun menunggu...
menunggu...
diserobot lagi, dan tetap,
menunggu...
menunggu...

akhirnya antrian mulai sepi.
melati : pak, (coba mukanya kaya' pussy in the boots,  hha..)
si bapak yang mungkin udah kasian sama temen gw, mulai memberi respon.
 bapak : ini diapain?
melati menjelaskan permintaannya kembali.
bapak : cabut dulu. pokoknya siap djilid.
gw + melati : -___________-

jadilah gw dan melati membereskan hal yang perlu dibereskan, dan akhirnya si bapak berbaik hati untuk menjilid.




waktu yang dibutuhkan : 45 menit.



sepanjang kiprah gw berkuliah di kampus ini, *eeaaaa....
memang seringkali mendapat perlakuan semacam itu.
bukan maksud hati mau ngapa-ngapain (eh?),
tapi itu semua bikin gw berat hati mendatangi fotokopian, kecuali benar-benar butuh.
(ya iyalah, kalo gak butuh lu ngapain ke fotokopian, plis !)
maka gw simpulkan, ada sesuatu yang suram di sana,
yang membuat si bapak ikutan suram,
dan menularkan kesuraman kepada kami.
dan itu : angker.

Comments Off

Tags:

KEBANGGAAN DAN RASA SYUKUR SEORANG DOSEN

Posted on 30 October 2011 by sjafri mangkuprawira

 

         Hari ini saya menghadiri orasi ilmiah tiga orang perempuan Guru Besar IPB. Salah satunya adalah mantan bimbingan saya ketika dia menempuh pendidikan S1 dan S2 sekitar dua puluh tahun lalu. Tentunya hal ini sangat membanggakan dan sekaligus rasa syukur saya. Dengan demikian sejak kini  saya dan dia sudah  sama-sama profesor. Suatu kejadian yang saya anggap langka dari sejumlah mantan bimbingan saya selama ini.

          Sampai saat ini tidak kurang dari 450 orang alumni IPB (strata 1-3) yang pernah saya bimbing. Kalau mahasiswa yang pernah saya ajar, khususnya dalam ilmu Pengantar Ekonomi, Pengantar Manajemen, Pembangunan Pertanian, Manajemen SDM, Teori Organisasi, dan Kebijakan Pertanian, diperkirakan jumlahnya ribuan. Kini mereka tersebar sebagai dosen, birokrat, anggota legislatif, peneliti, dan wirausaha. Kalau saya hitung paling tidak terdapat ratusan lulusan IPB yang sudah berhasil sebagai akademisi dan pengamat sosial ekonomi tingkat nasional bahkan internasional seperti itu.

          Diperoleh kabar tidak kurang sebanyak 40 orang yang kini sedang menduduki jabatan eselon satu di pemerintahan. Disamping ada yang sebagai menteri dan presiden, hahaha. Bahkan beberapa diantaranya sudah lebih awal menjadi guru besar dibanding saya. Tentunya salahsatu unsur keberhasilan mereka adalah hasil proses pembelajaran yang dilakukan oleh suprasistem yaitu semua dosen yang berdedikasi tinggi disamping karena kemampuan dan upaya mereka sendiri.

            Sebagai dosen, saya bangga sekali dengan keberhasilan mereka. Tiada kata lain yang meluncur kecuali ungkapan rasa syukur….. yang mensyukuri ni’mat-ni’mat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus (An-Nahl; 121). Kebanggaan itu semakin bertambah ketika mereka membawa tambahan ilmu pengetahuan untuk dikembangkan, paling tidak di kampus IPB. Para mahasiswa baru tentunya semakin terbantu dan semakin kaya ilmu. Harapannya adalah mutu lulusan IPB semakin unggul.

           Bagi saya, sebagai orang yang pernah menjadi guru mereka, sekarang tidak mau kalah untuk menimba ilmu…..lalu saya “berguru” pada mereka. Dalam kesempatan tertentu saya biasa meminta informasi buku ilmu ekonomi, organisasi dan manajemen apa saja yang mereka miliki. Dan tidak segan-segan saya minta diajari bagaimana menjelaskan dan menggunakan suatu teori dan model analisis mutahir yang belum saya ketahui. Saya butuh itu sekalipun dari seorang mantan mahasiswa saya. Nah itulah senangnya bekerja di perguruan tinggi. Tidak mengenal bentuk hirarki struktural dan fungsional. Yang ada cuma suasana kolegial. Tidak perlu ada sungkan.


Comments Off

Tags: ,

Ironi di Etalase IPB

Posted on 27 October 2011 by freedomguyz


Mungkin buat para mahasiswa IPB tak asing lagi dengan carut marutnya perparkiran di IPB.mulai dari motor di asrama TPB yang KATANYA mau dijatah
150 motor saja tapi kenyataannya sekarang astra udah full banget sama motor,dan semester depan pasti yang bawa motor masih nambah lagi,padahal sudah cape-cape daftarin motor dari zaman matrikulasi ke BPA. Ada juga kasus banyaknya tempat parkir motor illegal yang tidak dijaga oleh unit keamanan kampus (UKK) yang disebabkan karena tempat parkir yang disediakan IPB tidak muat dan juga jauh dari pusat kegiatan mahasiswa. Akibatnya?? bulan September kemarin kabarnya sekitar 20an motor hilang di sekitar IPB,termasuk daerah sekitar kampus juga bukan hanya di dalam kampus.

Ada juga masalah tentang tempat parkir yang memungut bayaran untuk motor,padahal seharusnya gratis. Mereka melakukannya dengan menimpa tulisan gratis di tiket dengan nama tempat parkir tersebut.kalo sudah begitu kan orang ragu ini tempat parkir gratis atau bayar. Lucunya Tapi soal dipungut bayaran ini hanya kendaraan motor yang notabene digunakan oleh mahasiswa/orang luar kampus yang berpendapatan pas-pasan,sedangkan mobil hanya ditarik bayaran ketika memasuki IPB saja. Untung saja sekarang sudah banyak tempat parkir yang sudah berubah,seperti tempat parkir perpustakaan sekarang menerapkan parkir gratis 7-16,sisanya bayar seperti yang diterapkan di FPIK dan FKH, dan juga tempat parkir ilegal seperti di FATETA sudah dijaga oleh UKK.

Sangat disayangkan tempat yang belum berubah ternyata adalah rektorat yang notabene merupakan etalase dari IPB. Orang luar IPB bisa saja dengan contoh kecil seperti ini menganggap bahwa banyak pungli di IPB yang bisa merendahkan harkat IPB di mata masyarakat.Saya mengerti mungkin gaji UKK itu tidak seberapa,tapi daripada karena seribu dua ribu bisa menghancurkan reputasi IPB,maka mungkin sebaiknya khusus di rektorat AHN parkir disuruh membayar saja dengan tarif yang jelas,supaya UKK disana mendapat tambahan penghasilan,tidak mungkin kan soalnya banyak yang parkir di rektorat sampai malam,berbeda dengan tempat parkir lain.

From freedom-By freedom-For freedom
Freedomguyz

Comments Off

Advertise Here

RELATED SITES

Random Quotes