“Recent Comments” www.bloggeripb.org Suka Error
January 12, 2010
Sedikit heran, ketika saya ingin membaca komentar dalam tulisan bloggeripb.org dari Recent Comments… saya heran ketika meng-klik link tersebut kok malah kabur ke mana-mana? kalo ga salah kaburnya ke sini deh (http://humblediary.wordpress.com/2010/01/11/2nd-day-uas-the-morning/#comment-161) itu kenapa seh? apakah memang kerusakan, atau ada beberapa admin yang sengaja bermain dengan kode-kode blogger IPB. org?
Sebernarnya saya ga tahu dari mana sumber masalah itu. Awalnya dikira hanya error dikit atau error karena jaringan yang saya gunakan tidak stabil, atau laptop saya, atau rentalnya… tapi masa errornya sampai segitunya? buat admin, tolong di cek lagi deh. karena sangan tidak nyaman bermain di bloggeripb.org dalam kondisi seperti ini.
Makasih ya…
Selamat Tahun Baru 2010
December 30, 2009
IPB Raceway
December 23, 2009
Pernah terbayang IPB punya arena balap di dalam area kampus?
Nggak perlu dibayangkan.
Tiap hari kita sedang dan akan menyaksikan ajang balap dengan gratis di lingkungan kampus. Lantas siapa yang jadi pembalapnya? dan apa yang jadi arena balapnya?
Beberapa oknum tukang ojek seringkali menjadi pembalap amatiran di lingkungan kampus. Jalanan kampus menjadi trek balap dadakan. Dengan kemampuan mengendalikan kuda besi yang berbekal SIM, dan dengan alasan kejar setoran, mereka libas jalan kampus seperti tanpa mengenal pejalan kaki yang sama-sama menggunakan jalan.
Mendengar beberapa komentar mahasiswa IPB yang semuanya terang-terangan merasa terganggu dengan kelakuan oknum tukang ojek ini. Jelas-jelas ini membahayakan pengguna jalan lainnya. Tidak jarang terjadi kecelakaan lalu lintas menimpa pejalan kaki di lingkungan kampus IPB.
Keluhan pun banyak bermunculan. Bahkan ada salah satu teman yang terang-terangan menyampaikan keluhan ini ke orang nomor wahid di IPB, bapak Rektor Herry Suhardiyanto – melalui Facebook . Walau tidak secara langsung, jelas ini merupakan keluhan yang bukan sekedar keluhan biasa.
Masalah yang menyangkut tukang ojek sebenarnya bukan masalah baru. Beberapa kali tukang ojek bikin ulah dengan mengganggu kelancaran dan keamanan di jalanan kampus IPB.
Agar masalah tidak sampai berlarut-larut, ada baiknya pihak IPB khususnya bidang kebersihan dan keamanan mengadakan pertemuan dengan tukang ojek di lingkungan kampus IPB. Pertemuan ini tentunya bukan hanya pertemuan yang hanya sekedar silaturahmi, melainkan pertemuan yang bisa memberikan solusi.
Antara Pengemis, Tukang Ojek, & Bus IPB
December 22, 2009
Ini cerita ketika salah satu mahasiswa bangun kesiangan. Hari senin beberapa waktu lalu. sata itu kuliah masuk pukul 08.00 dan baru berangkat dari kosan pukul 07.50. ruangan kuliahnya adalah di daerah yang cukup plosok di IPB. RK Wisma Pinus. Dengan semangat mahasiswa, langkah kupercepat. sambil berjalan cepat, tangan kananku mengocek kantong menyediakan uang 2.500 dengan niat akan di’ikhlaskan’ ke tukan ojek. Langkah semakin cepat dan semakin dekat dengan berlin, markasnya tukang ojek yang mencari mangsa di pagi hari.
Akhirnya langkah tiba di berlin. Perlahan kaki diangkan membebaskan diri dari cengkraman Bara dan bateng. Wushh…. semua diam sesaat. Uang 2500 di genggaman tangan kanan berteriak. “kemana aku akan di berikan?” seolah dia bertanya. Di hadapanku langsung terlihat tiga pilihan. semua berjejer memberikan pilihan kepadaku. lapis pertama adalah rombongan tukang ojek yang mereka masih terlihat kekar menghadapi hidup. lapis kedua adalah seorang ibu yang memegang kropak di tangannya dengan wajah penuh harap diberikan sumbangan. muka yang sudah tidak begitu tegar malawan kejamnya kehidupannya. dan jauh di depan sana sebuah bus IPB sedang parkir dan siap mengantarkan mahasiswa ke tempat kuliahnya masing-masing.
Hasilnya, jiwa iseng ku muncul… iseng2 iseng aku mikir, kemana 2500 itu akan ku gunakan,,,, karena dalam kondisi saat ini ada 3 kemungkinan dan tiga konsekwensi:
1. Uang 2500 di berikan kepada tukang ojek, dengan keuntungan yang kudapatkan adalah bisa sampai di tempat kuliah tidak “terlalu” terlambat. (tapi terlambat juga). namun artinya aku akan membiarkan ibu tua itu mengambil rizkinya dari orang lain yang aku khawatir jika semua mahaiswa berfikiran sama denganku. apa yang akan dimaka ibu dan anaknya sore ini?
2. Uang tersebut aku berikan kepada ibu tersebut dengan konsekwensi aku harus jalan kaki ke tempat kuliahku yang cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. pasti aku akan terlambat tiba di ruang kuliah.
3. atau aku tidak perlu memberikan uang tersebut kepada siapapun, dengan aku naik bus IPB yang akan mengantarku sampai FPIK dan jalan kaki ke tempat kuliah dengan jarak yang juga tidak terlalu dekat.
Pokonya… hanya satu pilihan yang mungkin membuatku tidak terlalu terlambat hari itu. yaitu pilihan pertama.
Saat itu lah sebuah pikiran usil melintas. Bagaimana mungkin di Area KAMPUS sebesar IPB dengan jumlah mahasiswa lebih dari 10.000 orang, masih mungkin ada seorang ibu tua yang mencari nafkah dengan cara mengemis? tidakkah ada 1 dari ribuan “KAUM INTELEKTUAL” itu yang berusaha untuk meberdayakan orang-orang seperti ibu tua itu? pertanyaan aneh yang aku sendiri mungkin tidak dapat menjadi satu orang tersebut. Padahal, jika 10.000 mahasiswa tersebut ikhlas menymbangkan Rp. 1000 per bulan dan ada satu orang atau lembaga yang mengelolanya. orang-orang yang senasib ibu itu di IPB mungkin akan bernasib lebih baik. karena ada lebih dari Rp. 10.000.000,- uang yang terkumpul setiap bulan. angka yang tinggi untuk memberdayakan orang-orang seperti ibu tersebut. Tapi ini mungkin hanya khayalan usil saja. semoga superman yang ditunggu-tunggu itu segera hadir.
Oke… berlanjut ke cerita.. setelah menimbang dan memikirkan dengan matang. akhirnya, apa keputusan yang kuperbuat? saya rasa jawabannya cukup saya saja yang tau. yang pasti saya telah memilih satu dari ketiga pilihan tersebut, dan saya tidak terlambat masuk ke ruangan kuliah. (aha_gambreng)
Upgrade Wordpress 2.9
December 22, 2009
Renungan: Perasan Sang Ayah
December 1, 2009
Nyamannya Naek Kereta Eksekutif
October 31, 2009
Sedesperate itukah saya??
October 31, 2009
Heft. Sedesperate itukah saya hari ini? Sekarang?
Iya iya iya saya tau, semggu ini banyak yang ngomentarin kalo saya kurusan. Gara2 skripsi apa emang stres yg lain?? Hmm
Mungkin badan saya sekarang hanya tinggal tulang berbalut kulit, atau korban busung lapar desa2 di Afrika. Celana2 jins mulai longgar, baju udah ga fit lagi..bener2 kurang hiburan saya belakangan ini. SKRIPSI??? Hehmm as usual, saya ngerjainnya ya seperti rencana saya. Ga terlalu membuat saya ‘desperado’ hahaha, hanya aja saya memang kurang refreshing kyk dlu sm sahabat2 tercinta yg skg udah pada mencar, menikah, lanjut s2, cari kerja, travelling, keluar negri.. Well, saya hanya bisa terjebak di kota hujan mengerjakan kewajiban atas ibu dan bapak saya. Rasanya malu jika saya pulang dan setiap kalinya ditanya ‘kapan wisuda nak..?’ sama ibu dan bapak saya.. Makanya saya lebih memilih menyendiri di tempat kost, memendam rindu akan kedua orgtua dan adik2 tercinta, ketimbang telinga ini mendengar suara sumbang dluar ru…
lagiiii…lagii….
October 26, 2009
membaca jurnal lagi….hari ini gak jadi ketemu pak ahmad dulu, mau prepare seblom ditanya2in dulu…
duhhhh kenapa jadi takutan gini yah ketemu ps????huks…
Holding on like me
October 26, 2009
Keep on writing,
Keep on loving,
Keep on struggling,
No matter what,
No matter how,
No matter why,
Saya hanya berharap kamu tetep nulis ada atau tdk ada saya.
Mau nanti kita pisah ga ketemu lagi, atau ternyata tetep seperti dlu.
Walaupun kadang keinginan saya hanyalah sebatas keinginan saja, ga sampe menjadi sesuatu yg

