Bebaskanlah kampus kita dari sampah dan asap rokok.
Pada hari registrasi ulang, setidaknya pada tahun 2007, ada saat dimana mahasiswa baru disuruh menyanyikan kalimat tersebut. Sayangnya, nyanyian tinggal nyanyian tanpa adanya tindakan yang nyata. Kampus ini masih terbelenggu oleh dua hal tersebut, terutama masalah sampah.
Sampah ada di mana-mana. Jalanan, koridor-koridor, kantin, bahkan ruang kuliah sekalipun tidak terbebas dari sampah. Kok bisa? Siapa yang melakukannya? Memangnya siapa lagi selain orang-orang yang menggunakan fasilitas tersebut. Ruang kelas yang awalnya bersih dengan kursi tertata rapi, setelah digunakan pasti ada sampah yang berserakan dan susunan kursinya menjadi berantakan. Koridor-koridor yang digunakan untuk berkumpul, pada sore hari penuh dengan sampah bekas makanan. Student Center, setelah digunakan untuk kegiatan belajar bersama, pasti dipenuhi dengan plastik bekas konsumsi kegiatan tersebut.
Hal ini mungkin terjadi karena budaya saling mengingatkan dan budaya malu telah hilang. Saat kita masih duduk di bangku sekolah menengah, setiap kelas memiliki tim piket sendiri. Ketika ada satu orang tim piket yang ‘kabur’ dari kewajibannya, anggota tim yang lain akan mengingatkannya. Jika pada satu hari ternyata kelas tersebut kedapatan berada dalam kondisi kotor, pastilah tim piket yang bertugas hari itu akan merasa malu karena gagal melaksanakan tugasnya. Sekarang, orang dewasa sekalipun dengan santainya membuang sampah ke jalanan, walaupun anaknya duduk di sebelahnya.
Anda ingin menjadi mahasiswa berbeda? Sekedar informasi, mahasiswa yang mau berepot-repot menyapu ruangan kuliah, sebelum atau setelah kegiatan perkuliahan, termasuk mahasiswa yang langka
.
“Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah. Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?”













