“ Kepintaran itu bukan hanya disini.. tapi juga disini sayang”,kata Bu Betty sambil menunjuk dahi gadis kecil itu, kemudian berganti menunjuk dadanya.
Posted on 30 June 2010 by Dyarilonia
Comments Off
Posted on 30 June 2010 by Dyarilonia
Comments Off
Posted on 29 June 2010 by Aha Gambreng
Ketakutanku kejadian. Lagi-lagi nilai C itu menertawakanku. Bukan, dia bukan menertawakan. Tapi meledek. Dia sepertinya sangat senang untuk mewarnai hidupku setiap semester. Haha… Sedih? Tidak.. Tentu saja tidak sama sekali.
Biarpun C adalah nilai favorit yang ga pernah absen setiap akumulasi IP rasa syukur masih aku ucap dalam hati. Karena, untuk kesekian kalinya, aku mendapatkan nilai C pada mata kuliah yang sangat aku minati.
Ini artinya, apa yang aku sukai bukan berarti aku pahami sepenuhnya. Inilah motivasi belajar anak manusia sepertiku. Harus merasakan, harus mengalami, dan harus gagal untuk bisa belajar.
Comments Off
Posted on 29 June 2010 by sjafri mangkuprawira
Setiap dari kita pasti pernah mengeluh. Ada keluhan yang diucapkan dan ada yang disimpan di dalam hati. Tetapi latar belakang penyebabnya sama saja. Perilaku seperti ini terjadi ketika sesuatu yang dihadapi, dialami, dan dimiliki dinilai di bawah standar atau ukuran diri bersangkutan dan atau standar umum. Mereka tidak merasa puas dengan yang dimilikinya, dengan tugas yang diterimanya, dan dengan ketidaknyaman hubungan sosial yang ada. Jadi ada respon terhadap unsur luar dan bahkan respon terhadap unsur di dalam diri yang bersangkutan. Misal dari unsur luar adalah respon negatif tentang besaran kompensasi, kepemimpinan manajemen, dan fasilitas kerja yang dihadapinya. Sementara unsur dari dalam antara lain adalah kekurangan fisik, mental, dan keegoan. Dari sudut waktu, mengeluh bisa dalam bentuk spontan atau seketika lalu hilang, bisa jangka pendek saja, dan jangka panjang. Semakin panjang dimensi waktu semakin parah kondisi mental yang bersangkutan. Artinya yang bersangkutan tidak mau dan mampu menghadapi kenyataan yang ada, kecenderungan malas, hubungan sosial yang rendah, dan potensial sebagai pemicu konflik. Lalu apa hubungannya dengan suasana kerja yang terjadi?
Pada umumnya ciri-ciri pengeluh antara lain (1) egoistis dan egosentris; (2) cenderung menyalahkan lingkungan ketimbang kepada dirinya; (3 ) bersifat pesimistis; (4) selalu merasa tidak puas tentang hidup dan kehidupannya; dan (5) cenderung sering merengek pada rekan kerjanya, layaknya seorang anak kecil. Dengan kata lain para pengeluh khususnya yang kronis akan selalu menyalahkan dan bahkan memarahi pihak lain sebagai refleksi kekurang-puasannya. Para rekan kerjanya hampir-hampir tidak dilihat sebelah mata. Dalam kondisi seperti itu potensial munculnya suatu konflik. Disamping itu setiap keahlian yang dimiliki para pengeluh tidak dapat dimanfaatkan secara optimum. Wajar demikian terjadi karena waktu kerja pengeluh habis digunakan hanya untuk mengutarakan ketidakpuasan saja. Akibatnya setiap orang tidak respek terhadap mereka.
Dalam kenyataannya, manajer tidaklah selalu mudah mengatasi mereka yang tergolong pengeluh. Sering dilematis, di satu sisi sang pengeluh sebenarnya seorang karyawan yang pandai dan trampil. Sementara di sisi lain sang pengeluh dapat mengganggu suasana kerja yang nyaman dan perlu ditindak. Karena itu manajer haruslah pandai-pandai menghadapinya dengan bijak. Artinya anggap saja manajer sedang menghadapi pelanggan dimana dia harus mendengarkan setiap keluhannya dengan serius. Beberapa jalan keluar yang dapat dilakukan antara lain, melakukan pendekatan personal. Manajer sebaiknya mau menunjukkan perhatian mendengarkan keluhan-keluhannya. Siapa tahu ada keluhan yang memang benar dan perlu ditangani oleh manajemen. Yang kedua adalah menempatkan sang pengeluh pada posisi pekerjaan dengan persyaratan yang hampir semuanya sesuai dengan yang dikehendaki sang pengeluh.
Implikasi dari kondisi di atas maka perusahaan harus sudah berhati-hati sejak dalam proses rekrutmen dan seleksi karyawannya. Persyaratan akademis dari calon karyawan semata-mata tidaklah cukup. Diperlukan syarat ketrampilan lunak atau soft skills. Kemudian dalam pelatihan dan pengembangan juga perlu diberikan materi dan metode pengembangan diri. Praktek-praktek berkomunikasi, bersosialisasi, dan dinamika kelompok menjadi hal yang sangat penting. Selain itu perhatian manajer kepada karyawan dalam bentuk keinginan untuk mendengar keluhan-keluhan karyawan sangatlah diharapkan. Dengan demikian sejak dini keluhan-keluhan itu dapat diatasi dengan efektif.
Comments Off
Posted on 28 June 2010 by dEe


Comments Off
Posted on 27 June 2010 by dEe

atau
atau
atau
Comments Off
Posted on 27 June 2010 by sjafri mangkuprawira
Berpikir kritiskah kita ketika melihat dan mengalami harga pangan yang terus meningkat? Harga minyak bumi meningkat? Daya beli masyarakat menurun? Hampir di setiap daerah mengalami bencana banjir? Tindakan anarkis dimana-mana? Ada wakil rakyat yang terkena kasus suap,dsb? Dengan kata lain apakah kita peka dan berespon terhadap fenomena-fenomena tersebut?. Saya percaya semua orang pernah dan malah sedang berpikir kritis. Yang membedakan cuma derajat kekritisannya. Mulai mengkritisi masalah yang ringan sampai yang berat -berat. Mulai dengan daya kritis santai sampai daya kritis sangat serius.
Berpikir kritis dipandang sebagai salah satu pendekatan kecerdasan intelektual dan emosional yang tertua dan paling banyak dikenal di dunia ini. Ryder (1986) dalam Chua Yan Piaw; Creative and Critical Thinking Styles, 2004) menguraikan signifikansi dari berpikir kritis dalam kehidupan keseharian manusia. Dia menyatakan bahwa hanya individu-individu cerdaslah yang mampu berpikir kritis secara bersinambung.Beyer (1995) dalam Chua Yan Piaw berpendapat berpikir kritis berarti membuat pendapat atau perimbangan yang beralasan. Baik dalam ruang lingkup hidup keseharian yang ringan sampai hal yang rumit dalam bentuk temuan penelitian. Dengan kata lain ada respon terhadap keabsahan suatu informasi fenomena, pernyataan, gagasan baru, pendapat, hasil penelitian, dsb.
Karena merupakan proses yang menggunakan kecerdasan intelektual maka berpikir kritis idealnya dilakukan dengan pendekatan konseptualisasi, analisis, sintesis, dan evaluasi informasi yang dikumpulkan melalui observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, dan komunikasi. Dalam hal ini ditekankan, mengkritisi sesuatu seharusnya tidak sembarangan. Agar diterima secara masuk akal, berpikir kritis sebaiknya berbasis data dan informasi yang andal dan absah, dan alasan kuat. Dapat juga menggunakan pendekatan teoretis dan empiris; baik deduktif maupun induktif. Hal ini penting karena masih banyak individu atau yang mengatasnamakan institusi, dan bahkan pejabat berucap macam-macam tanpa didukung data-informasi dan alasan yang bisa diterima. Yang digunakan hanyalah akal-akalan saja bahkan perasaan semata Sebutan populernya adalah asbun atau asal bunyi. Telah terjadi proses berpikir yang bias. Tidak jarang hal itu mengakibatkan terjadinya kontra kritisi yang berujung pada kontraproduktif. Masyarakat tidak disadari tergiring ke arah kebingungan kolektif.
Comments Off
Posted on 25 June 2010 by Aha Gambreng
Kreatifitas manusia ternyata tidak akan pernah dapat di hentikan dengan keterbatasan. justru, keterbatasan malah meningkatkan daya kreatifitas manusia itu sendiri. bayangkan korek api saja bisa dijadikan sebuah mahakarya yang luar biasa. hebat. maka, tidak pernah ada alasan keterbatasan menghalangi kreatifias manusia.








kalo yang ini sayang banget kali ya… udah susah-susah di susun malah di bakar.. haha.. demi mendapatkan sebuah mahakarya….
Comments Off
Posted on 23 June 2010 by asfarian
Tulisan ini dibuat sebagai bagian dari tugas akhir Mata Kuliah Interaksi Manusia dan Komputer. Penulis hanya melakukan kajian terhadap faktor usability (kegunaan) dari antarmuka situs cerpenista.com
Tulisan ini terdiri dari tiga bagian, yaitu :
Bagian 1 : Pendahuluan
Bagian 2: Evaluasi Heuristik Poin 1 – 5
Bagian 3: Evaluasi Heuristik Poin 5 – 10
Bagian 4: Penutup
Secara umum, situs cerpenista adalah situs yang sederhana. Namun masih terdapat banyak kesalahan pada antarmuka situsnya. Kesalahan tersebut akan mengurangi kemudahan pengguna dalam menggunakan cerpenista.
Tidak semua aspek antarmuka dapat dibahas pada tulisan ini. Penulis minta maaf jika terdapat kesalahan pada penulisan ini.
Nielsen, J. Mack, Robert L. Usability Inspection Methods. 1994. New York : John Wiley & Sons.
Johnson, Jeff. GUI Bloopers 2.0 : Common User Interface Design Don’ts and Dos. 2006. San Fransisco : Morgan Kauffman
NB : Penutup yang kurang penting
Comments Off
Posted on 23 June 2010 by rave
IPB mengeluarkan terobosan baru untuk mengingkatkan peringkatnya di webometrics. Melalui Direktorak Komunikasi dan Sistem Informasi, IPB mengadakan lomba web antar lembaga kemahasiswaan se-IPB. Lomba yang diikuti seluruh LK di IPB ini digeber mulai pertengahan pertengahan Juni dan berakhir pada akhir Juli.
Panitia akan menilai tiap web masing-masing LK, katanya dengan sistem yang mirip dengan webometrics. Tiap LK diberi fasilitas berupa web engine wordpress dengan storage 300 mb dan sebuah domain pada [namalk].lk.ipb.ac.id.
Pihak DKSI selaku penyelenggara terlebih dahulu mengadakan pelatihan pembuatan web dengan wordpress pada 19 – 21 Juni. Walaupun dengan keterbatasan untuk mengeksplorasi desain web karena tidak adanya fitur template editor pada engine ini, tampaknya sudah cukup untuk membuat web sederhana untuk tingkat LK. Lagipula, sisi penilaian bukanlah dari segi keindahan atau estetika.
Nah, beralih ke masalah sebenarnya. Setelah mendengar beberapa keluhan teman-teman dari LK lain (saya juga terdaftar dalam lomba ini sebagai peserta), dan sempat mengalami hal yang sama sendiri. Ternyata web ini tidak bisa diakses dari luar lingkungan IPB. Tidak hanya satu web LK, tapi lebih dari satu. Saya coba akses lewat perangkat mobile, juga menemui jalan buntu.
Sebenarnya keluhan yang sama pernah saya dengar sebelum lomba ini diadakan. Ada satu LK yang telah mendaftarkan webnya di domain [namalk].ipb.ac.id. Domain sudah aktif dan bisa diakses. Namun, hanya memungkinkan untuk akses di lingkungan IPB.
So, apakah tujuan dari pembuatan web tiap LK ini hanya untuk dilihat dan dibaca orang-orang lokal IPB?
p.s : meniru kata-kata dari blog temen, CMIIW (Correct Me IF Im Wrong)