Archive | May, 2010

Raksasa Teknologi 2010

Posted on 30 May 2010 by aha_gambreng

Yahoo.co.id-Microsoft raksasa teknologi dunia yang telah ‘menemani’ komputer dunia lebih dari 20 tahun. Keberadaan Microsoft di kancah teknologi tidak dapat dipandang sebelah mata  lagi. Microsoft adalah perusahaan yang sangat diperhitungkan dalam kemajuan teknologi dunia.

Eksistensi mikrosoft di kancah teknologi ternyata tidak serta merta membawa mereka menjadi perusahaan teknologi terbesar dan paling berharga di dunia. Sebuah perusahaan yang menyumbang segudang inovasi teknologi, Aplle berhasil merebut tahta sebagai perusahaan teknologi paling berharga di dunia. Wall Street menghargai Apple di US$ 222,12 miliar dan Microsoft US$ 219,18 miliar.

Inovasi-inovasi yang di keluarkan Apple berupa i-phone, i-pad dan sebagainya berhasil membawa Aplle menjadi raja teknologi dunia. (aha-gambreng)

Comments (1)

Tags:

pengalaman seru bersama manajemen racel

Posted on 30 May 2010 by pikadita

30 Mei 2010


hari ini aku dapat pengalaman sekaligus ilmu yang berharga,,,,
hmmm,,,
hari ini aku+manajemen racel (teman2ku),, kita melakukan kunjungan ke suatu cafe,, S-One, letaknya di taman kencana bogor,,
pemiliknya baikkkkkk banget deh,,, pak Suti namanya (semoga gak salah tulis..).
kita diajarin bagaimana cara berwirausaha,, wah,, keren banget,,,
peserta racel-nya juga semangat banget,,, (bahkan panitia jadi pada ngebet bgt pengen tau cerita kesuksesan pak Suti,,
jadi semangat berwirausaha,,
yang aku tangkap dari penjelasan beliau itu tadi, sbb:
1. berwirausaha tanpa modal
2. kontrol resiko
3. mengerti segmen pasar
4. buat peta hidup..
ada yang salah gak? haha

ada lagi nih yang berkesan,,, kita disuguhin makanan macem2 di cafenya pak Suti,,

hehee... seru bangettttt....

Comments Off

Tags:

UNSUR MANUSIAWI DALAM MSDM

Posted on 30 May 2010 by sjafri mangkuprawira

 

        Pentingnya kepedulian pihak perusahaan terhadap karyawan atau manajemen sumberdaya manusia (MSDM) selalu menjadi pusat perhatian berbagai pihak. Alasannya karena karyawan merupakan pelaku utama produksi dan pemasaran hasil. Tak mungkin strategi bisnis akan tercapai kalau tidak ada pelakunya. Karena itu selama karyawan bekerja mereka ditempatkan pada posisi penting sebagai aset perusahaan. Dalam hal ini yang diperhatikan oleh pihak manajemen adalah bagaimana caranya agar produktivitas kerja mereka dapat ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan pengembangan sumberdaya manusia. Bentuknya bisa melalui pendidikan dan pelatihan. Kalau produktivitas kerja semakin tinggi maka kinerja perusahaan akan meningkat. Akibatnya  kompensasi yang  bakal diterima karyawan pun akan bertambah. Dengan harapan, karyawan dan keluarganya mampu meningkatkan kesejahteraannya.

        Pertanyaannya apakah perhatian pihak manajemen cuma sebatas pada sisi nilai output saja? Di sisi lain apakah pihak manajemen tidak menyimak adanya karyawan yang  jenjang karirnya sudah mentok,  harapan harkat manusiawi yang menurun ketika karyawan berhenti bekerja, kehidupan keluarga yang terhenti setelah karyawan pensiun, dan terjadinya fenomena stres dan depresi kerja? Beberapa pertanyaan itu penting dijawab ketika perusahaan hanya menitik beratkan pada program yang relatif jangka pendek  yakni peningkatan produksi dan menurunkan biaya produksi dan demi kepuasan karyawan yang sifatnya sementara saja.

        Jangan sampai demi keunggulan kompetitif, perusahaan mendorong peningkatan produksi berikut dengan mengurangi  biaya tenaga kerja. Sementara di sisi lain unsur manusiawi karyawan nyaris diabaikan. Kalau ini dibiarkan maka dapat menjadi titik masalah kemanusiaan yang bakal semakin besar. Hal ini terjadi karena strategi yang diterapkan lebih pada efisiensi ekonomi ketimbang efisiensi sosial (motivasi, imbalan psikologis, kebutuhan mental yang nyaman, dsb). Padahal idealnya dua sisi efisiensi itu seharusnya seimbang. Kalau strategi terdahulu terus berkelanjutan, perusahaan berarti tak akan cukup bergairah untuk meningkatkan produktifitas dan biaya produksi yang rendah. Selain   itu perusahaan bakal tidak cukup cerdas atau memiliki kepekaan tinggi dalam mengelola karyawan yang karakaternya begitu beragam dalam menciptakan kepuasan terbaik bagi para karyawannya. Pada gilirannya kalau dua hal itu tidak terpecahkan akan mengakibatkan kesehatan mental kerja karyawan menurun.

         Untuk melindungi posisi karyawan dari pengabaian unsur manusiawi oleh pihak manajemen maka pendekatan yang dianggap terbaik adalah melalui penerapan model perilaku organisasi. Di dalam perilaku organisasi perhatian pokok adalah pada model kepemimpinan dan perilaku karyawan berikut unsur-unsur yang mempengaruhinya. Untuk itu perhatian sentral harus dipusatkan pada kegiatan mengelola keragaman dan stres karyawan secara optimum. Penerapan suasana kemitraan kerja antara manajemen dan karyawan, kepemimpinan yang nyaman, pemotivasian, dan pelatihan dapat diterapkan untuk meningkatkan mental kerja karyawan. Selain itu aspek-aspek membangun hubungan kerja (formal dan informal), pengembangan ketrampilan lunak (soft skills) manajemen dan karyawan, dan manjemen perubahan internal khususnya yang menyangkut imbalan non-finansial perlu lebih diperhatikan. Semua itu seharusnya tercermin dari strategi bisnis dan strategi SDM perusahaan yang berorientasi jangka panjang.


Comments Off

Mahasiswa TPB IPB Berburu Beasiswa

Posted on 29 May 2010 by robbyhakim21

Hampir setiap hari di tiap langkah Obet menuju kampus, Obet meilhat Kantor Direktorat Tingkat Persiapan Bersama (TPB) Institut Pertanian Bogor yang ramai oleh kerumunan mahasiswa yang hendak mengurus persyaratan pengajuan beasiswa. Dari Sabang sampai Merauke, mereka berlomba-lomba untuk meraih beasiswa yang disediakan. Beasiswa yang tersedia saat ini berasal dari Karya Salemba Empat (KSE). Beasiswa tersebut disediakan bagi seluruh mahasiswa program S1 tahun kedua atau semester 3 dari beberapa universitas negeri di Indonesia, seperti Universitas Indonesia, Institut Pertanian Bogor, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Bandung. Beasiswa diberikan dalam bentuk tunjangan belajar sebesar Rp 500.000/bulan selama satu tahun ajaran (2 semester) dan program keterampilan lainnya seperti pelatihan kewirausahaan, jurnalistik dan leadership. Hingga 27 Mei 2010 telah tercatat sekitar 2000 pendaftar dari mahasiswa TPB IPB. Continue Reading

Comments (0)

Tags:

PARADIGMA KERJA

Posted on 28 May 2010 by sjafri mangkuprawira

 

        Secara umum, paradigma diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak pada kehidupan sehari-hari.Paradigma adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya atau semacam pandangan dunia. Apakah setiap individu karyawan atau bahkan pihak manajemen dalam suatu perusahaan tertentu menyadari mereka punya paradigma? Belum tentu.

         Tidak semua perusahaan memahami dan menyadari bahwa paradigma dapat membawa seseorang untuk mengarahkan perilakunya. Tidak disadari bahwa setiap individu pada dasarnya memiliki pola pikir, pandangan, wawasan, dan model mental masing-masing. Misalnya bisa jadi pihak manajer memiliki pandangan bahwa para karyawan bersifat tidak bertanggung jawab, malas, dan tidak berharga. Sebaliknya karyawan menilai bahwa mereka orang-orang yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan bernilai tinggi. Pertanyaannya bagaimana semua komponen perusahaan harus memiliki paradigma yang sama tentang suatu pekerjaan termasuk para pelakunya.

        Paradigma kerja mengarahkan kegiatan setiap individu di perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan dan tujuan individu karyawan. Walaupun tidak dapat dilihat dan tanpa disadari kehadirannya, paradigma sangat mempengaruhi kondisi lingkungan kerja. Contohnya, pada tahun ’70-an, para manajer industri kendaraan mobil Amerika memiliki paradigma yang menyebutkan ”pelanggan kami hanya tertarik dan peduli pada tampilan suatu mobil”. Lalu apa yang terjadi setelah pernyataan itu muncul?

        Hampir-hampir saja pernyataan seperti itu membuat rugi perusahaan mereka dimana perusahaan Jepang (pesaing) menampilkan kekuatan strategi pada keandalan mobil yang diproduksikannya. Apakah itu dilihat dari sisi mutu kendaraan, kemudahan pemeliharaan, ketersediaan suku cadang, tampilan selalu menarik, dan tentunya harga yang bersaing. Implikasinya tim kerja, pihak manajer, dan manajemen puncak industri mobil Amerika terdorong membentuk paradigma kolektif. Semua satu bahasa, satu langkah, dan satu tujuan. Paradigma mereka ditampilkan ke permukaan dan diterjemahkan oleh semua pelaku bisnis dalam perusahaan tersebut. Dengan paradigma dapat dicegah terjadinya kerugian-kerugian perusahaan melalui pendekatan kerja yang efisien. Pola kerja yang  sinergis antarunit di perusahaan dibentuk lewat sistem koordinasi yang efektif. 


Comments Off

Tags:

TRANSFORMASI POLA PIKIR INDIVIDU : AWAL DARI KEMAJUAN BANGSA

Posted on 27 May 2010 by sarahtsaqqofa

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Tanah yang subur, lautan yang luas, hutan dan gunung yang lebat, dan sejuta pesona yang terdapat di dalamnya. Indonesia, merupakan suatu keragaman. Diversitas individu yang tinggi semakin membuat Indonesia menjadi negara yang sangat potensial. Dibalik segala pesona dan aset yang dimilikinya, kemajuan Negara Indonesia selama ini terhambat oleh sikap dan karakter masyarakatnya. Indonesia masih terdaftar sebagai 10 negara korupsi di dunia (Megawangi 2007). Selain itu, masyarakat saat ini sedang mengalami degradasi nilai-nilai dan norma-norma sosial. Hal tersebut terlihat dari berbagai jenis kerusakan moral yang terjadi dalam tatanan kehidupan masyarakat terutama pada generasi muda bangsa.

Lantas, kenapa semua hal tersebut dapat terjadi? Lalu apa hubungannya dengan kemajuan bangsa kita? Menurut John Stuart Mill, “Nilai suatu negara, dalam jangka panjang adalah kumpulan nilai dari individu-individu yang terhimpun di dalamnya”. Ya, tentu saja kemajuan suatu bangsa tak dapat terjadi secara tiba-tiba, perlu keterlibatan setiap individu di negeri ini. Peranan individu sangatlah penting karena individu-individu baik yang terhimpun dalam suatu negeri akan membangun negeri itu menjadi baik pula.

Saat ini, pola pikir bangsa Indonesia masih jauh dari pola pikir negara-negara maju. Menurut Prof. Toshiko Kinoshita dari Universitas Waseda, Jepang (dalam Harian Kompas, 24 Mei 2002), “Orang Indonesia tidak pernah berpikir panjang. Sedihnya lagi, karakter seperti itu bukan hanya di kalangan masyarakat dari semua lapisan, tapi juga politisi dan pejabat pemerintah. Hal ini kemudian, menyebabkan Indonesia akan sulit bersaing dengan China dan negara-negara Asia lainnya.” Untuk itu, bangsa Indonesia harus mengubah karakter mereka yang negatif menjadi karakter yang positif. Semua itu dapat diawali dengan mengubah mindset (pola pikir).

Mindset (Pola Pikir) adalah inti dari Self Learning atau pembelajaran diri. Inilah yang menentukan bagaimana kita memandang sebuah potensi, kecerdasan, tantangan dan peluang sebagai sebuah proses yang harus diupayakan dengan ketekunan, kerja keras, komitmen untuk tercapainya kebehasilan visi dan tujuan hidup kita (Darmawan 2008). Perubahan dan transformasi sikap dan pola pikir yang diharapkan antara lain adalah perubahan dari kebiasaan berpikir negatif menjadi positif, kebiasaan berpikir jangka pendek menjadi jangka panjang, bekerja sendiri menjadi bekerja tim, mencari-cari masalah menjadi menemukan solusi, tergantung menjadi mandiri, sentralistis menjadi otonom, elitis menjadi egaliter, pretise menjadi prestasi, asal-asalan menjadi terbaik, tiba masa tiba akal menjadi terencana, nepotisme menjadi meritokrasi, hierarkis ke hiterarkhis, sloganistis-protokoler menjadi pengalaman-sunstansial (Ibrahim 2003).

Bangsa ini perlu melakukan transformasi (perubahan) pola pikir agar bangsa ini menjadi lebih baik, menjadi bangsa terdidik, menjadi bangsa yang berpengaruh di dunia dan memimpin bangsa-bangsa di dunia. Sebuah transformasi (perubahan) pola pikir harus terjadi, jika kita ingin mengembangkan hidup yang berkualitas. Perubahan ini dimaksudkan supaya semua potensi, bakat, dan talenta kita bisa dikembangkan secara optimal, dan menghasilkan sebuah keluaran (output) dengan kualitas terbaik Mungkinkah hal tersebut dapat terwujud? Ya, jawabannya mungkin, sangat mungkin. Bangsa ini memiliki segalanya hanya tinggal prosesnya saja yang harus diperbaiki agar tercapai output yang diinginkan.

Sebuah survey Gallup tentang “Karakter Orang-orang Sukses di Amerika” menjelaskan bahwa hampir semua orang yang berhasil, berkualitas dan berkembang kehidupannya, adalah mereka-mereka yang memiliki mindset berkembang, seperti: kerja keras, tujuan yang jelas, hasrat belajar yang tinggi, tidak pernah berhenti belajar pada satu bidang tetapi selalu mencoba bidang lain, menghargai kemampuan pengembangan logika, terus berusaha untuk berubah dan berkembang dan sebagainya. Hidup yang berkualitas dan berkembang bisa dicapai karena mindset yang benar sudah mendarahdaging dan menjelma dalam karakter, kebiasaan, sikap dan perilaku orang-orang sukses (Darmawan 2007).

Tidaklah mudah untuk mengubah pola pikir manusia yang sudah mendarah daging dalam pikirannya. Lalu, bagaimana transformasi pola pikir didapatkan? Pembangunan dan pendidikan berkarakter merupakan salah satu bentuk cara untuk dapat melakukan transformasi pola pikir bangsa ini. Pendidikan karakter paling mendasar berasal dari pendidikan dalam keluarga. Keluarga adalah tempat pertama dan utama dimana seseorang dididik dan dibesarkan (Megawangi 2007). Pendidikan karakter dalam keluarga tak lepas dari peranan ibu. Oleh karena itu, sabda Rasulullah SAW yang berbunyi “Wanita adalah tiang negara, jika baik wanita maka baik negaranya, jika rusak wanita maka rusak negaranya” dapat dipahami kebenarannya. Setiap wanita akan menjadi ibu, jika wanita itu baik maka ia akan dapat melahirkan generasi baru yang baik pula.
Apa yang kita pikirkan menentukan apa yang akan kita lakukan. Pola pikir kita ini akan mempengaruhi karakter, kebiasaan (habits), perilaku dan sikap kita. Pola pikir ini sangat dipengaruhi oleh sistem kepercayaan atau sistem nilai yang kita miliki, nilai-nilai keluarga, pendidikan, dan lingkungan. Transformasi pola pikir tidak akan dapat berjalan apabila tidak didukung oleh lingkungan kondusif. Seorang individu akan sangat sulit menentang sebuah sistem tidak baik yang bertentangan dengan pola pikirnya. Sementara seseorang yang kurang baik dapat menjadi baik jika lingkungan terus mendorong ia untuk lebih baik. Oleh karena itu, lingkungan yang baik juga dapat mempengaruhi perilaku individu sehingga menjadi baik pula.

Pendidikan karakter untuk mengubah pola pikir bangsa menjadi lebih baik harus dimulai sejak dini agar generasi yang baru tidak kehilangan arah dan tujuannya. Mereka merupakan calon-calon pemimpin bangsa sehingga jika kita ingin memajukan bangsa ini, kita harus menjaga bibit-bibit baru dengan menanamkan karakter-karakter baik dalam hidupnya.

Comments Off

Tags:

Peranan Keluarga dalam Menginternalisasi Salah Satu Pilar Karakter : Cinta Tuhan dan Alam Semesta Beserta Isinya kepada Anak

Posted on 27 May 2010 by sarahtsaqqofa

Setiap manusia harus memiliki tujuan hidup yang jelas agar kehidupan yang dijalankannya di dunia tidak menjadi sia-sia belaka. Setiap manusia diciptakan Tuhan untuk bermanfaat di bumi ini karena manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Dengan mengenal Tuhan, manusia akan menjadi semakin yakin bagaimana pengelolaan dirinya untuk bermanfaat di bumi ini. Kecenderungan manusia dalam mencari Tuhan mulai hadir ketika manusia menyadari eksistensi diri dan lingkungannya. Berbagai pertanyaan muncul dalam diri, siapa penguasa seluruh jagad raya beserta isinya, bagaimana asal mula terbentuknya, pergantian siang dan malam, gugusan bintang yang teratur di langit, hewan dan tumbuhan yang bermacam-macam, serta keajaiban-keajaiban lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Manusia mempunyai peran ideal yang harus dijalankan, yakni memakmurkan bumi, mendiami, dan memelihara serta mengembangkannya demi kemaslahatan hidup mereka sendiri, bukan mengadakan pengrusakan di dalamnya. Kedudukan yang dipegang dan peranan yang dimainkan manusia dalam panggung kehidupannya di dunia pasti berakhir dengan kematian. Sesudah itu, dia akan dibangkitkan atau dihidupkan kembali di alam akhirat. Di alam akhirat ini, segala peranan yang dilaksanakan manusia selama hidup di dunia, sekecil apapun peranan itu, akan dipertanggungjawabkan, lalu dinilai dan diperhitungkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Setiap peranan akan mendapatkan balasan. Peranan yang baik akan mendapatkan balasan yang baik, sementara peranan buruk akan mendapatkan balasan buruk pula, dan manusia yang memperoleh balasan yang baik akan merasakan kebahagiaan yang abadi. (Iberani dan Hidayat, 2003)

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dimana seorang anak manusia dididik dan dibesarkan. Fungsi utama keluarga dalam resolusi majelis umum PBB adalah sebagai wahana untuk mendidik, mengasuh, mensosialisasikan anak, mengembangkan kemampuan seluruh anggotanya agar dapat menjalankan fungsinya di masyarakat dengan baik, serta memberikan kepuasan dan lingkungan yang sehat guna tercapainya keluarga sejahtera (Megawangi, 2007). Keluarga yang baik tentu akan menghasilkan individu yang baik. Keberhasilan pembentukan karakter individu sangat berpengaruh terhadap kemajuan suatu bangsa. Menurut John Stuart Mill, “The worth of a state, in the long run is the worth of individuals composing it” yang artinya “Nilai suatu negara, dalam jangka panjang adalah kumpulan nilai-nilai individu yang terhimpun di dalamnya”.

Keluarga mempunyai peranan penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat. Karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama di mana dia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupannya (usia pra-sekolah). Sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sudahnya. Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya. (Al-Hasan, 2009).

Menurut Agus Sujanto, Halem Lubis dan Taufik Hadi dalam buku “Psikologi Kepribadian”, pendidikan keluarga sangat berperan sebagai peletak dasar pembentukan kepribadian anak. Tentu, hal ini juga tak lepas dari peranan ayah dan ibu saat membesarkan anaknya. Salah satu pilar karakter yang perlu ditanamkan pada anak sejak dini adalah cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya. Kenapa pilar karakter tersebut amat penting bagi kehidupan anak selanjutnya? Karena hal tersebut merupakan hal yang paling mendasar bagi manusia dalam menentukan tujuan dalam hidupnya. Dalam Al-Qur’an, Allah mengatakan, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (Q.S. Adz-Dzariyat : 56). Dengan memiliki tujuan hidup selalu beribadah kepada Allah, Tuhan Semesta Alam, maka anak akan dapat mempertanggungjawabkan segala perbuatannya karena ia yakin akan mendapatkan balasan yang sesuai kelak. Ibadah yang dilakukan tidak hanya sholat, puasa, dan sebagainya melainkan juga bagaimana berinteraksi yang baik dengan sesama manusia, menjalankan hak dan kewajiban dengan baik, menuntut ilmu, menebar kebajikan, menjaga kebersihan, dan lain-lain.

Pendidikan anak dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan ibu. Sang ibu hendaklah berdo'a untuk bayinya dan memohon kepada Allah agar dijadikan anak yang shaleh dan baik, bermanfaat bagi kedua orangtua dan orang lain karena termasuk do'a yang dikabulkan adalah do'a orangtua untuk anaknya. Selanjutnya setelah kelahiran sang anak. Orangtua sebaiknya memberikan nama yang baik kepada anaknya dan senantiasa memberikan kasih sayang kepada anaknya. Pola asuh orangtua, terutama ibu, sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak kelak.

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa 50% kemampuan belajar sesorang adalah pada saat berusia 1 sampai 4 tahun (Yusuf, Burhanudin, dan Agoestyowati, 2004). Rentang usia ini merupakan saat yang tepat dalam mengenalkan Tuhan pada anak. Beberapa studi tentang rahasia sukses dan keberhasilan antara lain : IQ (Intelligency Qoutient : kecerdasan, nalar, logika, daya ingat, hitungan, analisa), EQ (Emotional Qoutient : motivasi berprestasi, penempatan diri, empati, kontrol emosi), SQ (Spritual Quotient : keseimbangan hidup, karakter diri, dunia-akhirat, jasmani-rohani, rasionalitas-spiritualitas, kejujuran, murah hati, penyayang) dan AQ (Advertsity Qoutient : kegigihan, semangat tinggi, endurance, pantang menyerah, quitters-campers-climbers) (Ibrahim, 2003).

Dalam kecerdasan intelektual, anak memiliki delapan jenis kecerdasan yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan Logis-Matematis, kecerdasan spasial, kecerdasan kinestetik-jasmani, kecerdasan musikal, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi dan kecerdasan naturalis (Armstrong, 2005). Orangtua dapat memanfaatkan kecerdasan anak tersebut dalam penanaman nilai cinta Tuhan dan ciptaan-Nya. Sebaiknya orangtua memulai dari hal-hal yang kecil dan mudah dipahami secara sederhana terlebih dahulu, misalnya dengan menceritakan hewan-hewan dan tumbuhan yang unik agar ia tertarik lalu ceritakan dan buat permainan yang menarik agar anak menyadari bahwa segala sesuatu pasti ada awal dan akan ada akhir. Dan segala jenis perbuatan di dunia akan ada balasannya. Di saat ia menyadari akan hal itu, orangtua dapat mengenalkan adanya Tuhan, yakni Dzat yang mengawali dan akan mengakhiri segala kehidupan di dunia ini serta akan membalas segala perbuatan manusia.

Lantas, bagaimana menanamkan rasa kecintaan terhadap Tuhan? Orangtua merupakan role model sang anak, anak senantiasa meniru tingkah laku orangtua. Orangtua dapat memberikan pelajaran tentang kasih sayang, rasa cinta dan pentingya membalas rasa cinta tersebut. Rasa cinta tidak hanya untuk ayah dan ibu saja, melainkan juga kepada Tuhan karena Tuhan lah yang menciptakan sang anak. Anak dapat bertemu dan hidup bersama kedua orangtuanya karena Kuasa Tuhan dan anak harus membalas cinta yang telah diberikan oleh Tuhan.

Dengan demikian, anak akan semakin mengerti tentang arti cinta kepada Tuhan. Cinta kepada Tuhan memiliki arti yang sangat luas, yakni anak juga harus mencintai seluruh ciptaan Tuhan, mulai dari orangtuanya sendiri, lingkungannya, makhluk hidup di bumi, serta ajaran dari Tuhan yang disampaikan oleh utusan-Nya. Selanjutnya, orangtua dapat mengajarkan anak hal-hal sederhana tentang ajaran Tuhan, yakni ajaran agama, yang akan menjadi pedoman hidupnya selama ia hidup di dunia. Internalisasi cinta Tuhan beserta segenap ciptaan-Nya pada anak yang ditanamkan sejak dini akan mudah menjadi karakter baik yang dapat membuat anak memiliki jiwa tanggung jawab dalam hidupnya dan akan membuat anak sadar tujuan hidupnya di dunia ini. Jika ia sadar tentang tujuan hidupnya dan segala sesuatu pasti akan ada pertanggungjawabannya, maka anak akan melakukan hal-hal baik selama ia hidup di dunia dan hal ini sangat erat kaitannya dengan pendidikan yang diberikan oleh sebuah keluarga.


Daftar Pustaka

Al Hasan, Yusuf Muhammad. 2009. Pendidikan Anak dalam Islam. Jakarta : Yayasan Al-Sofwa.

Armstrong, Thomas. Setiap Anak Cerdas! Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligence-nya. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Iberani Jamal S., Hidayat M.M. 2003. Mengenal Islam. Jakarta : El-Kahfi.

Ibrahim, Marwah Daud. 2003. Mengelola Hidup dan Merencanakan Masa Depan. Jakarta : MHMMD Production.

Megawangi, Ratna. 2007. Pendidikan Karakter Solusi yang Tepat Untuk Membangun Bangsa. Jakarta : Indonesian Herritage Foundation.

Sujanto Agus, Lubis Halem, Hadi Taufik. 2004. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Bumi Aksara.

Yusuf M.S., Burhanudin J., Agoestyowati R. 2004. Meniti Sukses Menata Masa Depan. Jakarta : Graha Ilmu dan LP3i.

Comments Off

Tags: ,

Pentingnya Kesadaran atas Kelestarian Lingkungan Industri

Posted on 27 May 2010 by Lutfisetiyono

SEIRING dengan kemajuan zaman, kebutuhan manusia semakin meningkat. Seperti prinsip ekonomi, perdagangan terjadi karena ada pasar, pasar tercipta akibat adanya permintaan. Oleh karena itu, segala upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Menyikapi permintaan pasar yang sangat besar ini, para industriawan dengan sengaja mendirikan berbagai macam usaha yang diharapkan dapat memenuhi ledakan permintaan tersebut.

Peningkatan permintaan memicu pertumbuhan industri yang pesat. Pertumbuhan industri tersebut ternyata banyak merugikan lingkungan. Banyak industri tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan sehingga membuat lingkungan pun semakin rusak dan tercemar oleh limbah-limbah, baik itu limbah cair, padat, ataupun gas (udara).

Menurut Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 mengenai ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup, setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, berkewajiban memelihara lingkungan hidup dan mencegah, menanggulangi kerusakan dan pencemarannya, serta mempunyai hak dan kewajiban untuk berperan serta dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha wajib memelihara kelestarian lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkesinambungan.

Industri berkewajiban untuk melestarikan lingkungan, serta menanggulangi kerusakan dan pencemaran. Banyak metode-metode yang bisa diterapkan dalam sistem atau menejemen industri untuk melestarikan lingkungan. Perlu adanya menejemen lingkungan industri yang baik dan benar untuk diterapkan dalam industri.

Peranan Menejemen Lingkungan Industri dalam Industri

Menejeman lingkungan adalah bagian dari menejemen keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, kegiatan perencanaan, tanggung jawab, praktek, prosedur, proses, dan sumberdaya untuk mengembangkan, menerapkan, mencapai, mengkaji, dan memelihara kebijakan lingkungan. Sistem yang mengatur bagaimana kegiatan bisnis dan industri menata lingkungan agar tetap sehat dan aman dari resiko pencemaran.

Dalam pelaksanaan menejemen lingkungan untuk mencapai kondisi ramah lingkungan, terdapat beberapa urutan-urutan prinsip yang harus diterapkan. Urutan prinsip tersebut, yaitu prinsip pencegahan pencemaran (pollution prevention), prinsip pengendalian pencemaran (pollution control), dan prinsip remediasi (remediation).

Prinsip pencegahan pencemaran (pollution prevention) adalah dasar bagi terciptanya kondisi yang sangat minim dihasilkannya bahan pencemar. Pencegahan pencemaran dilaksanakan meliputi keseluruhan dari proses produksi seperti pemilihan bahan baku yang murni, penggunaan alat proses yang efisien dan efektif dalam pemakaian bahan, energi, air, perawatan peralatan untuk optimalisasi proses, dan SDM dalam proses dan pengelolaan lingkungan.

Prinsip pengendalian pencemaran (pollution control) diterapkan apabila pencemaran atau limbah masih dihasilkan dalam suatu proses produksi sehingga dilakukan pengendalian pada bahan pencemar atau limbah agar tidak mencemari pekerja, produk, dan lingkungan sekitar. Upaya yang dapat dilakukan adalah mengolah limbah tersebut untuk menurunkan tingkat bahayanya, tingkat pencemarannya, atau menjadikannya bahan yang lebih bermanfaat dan bernilai ekonomi.

Prinsip remediasi (remediation) dijalankan untuk memulihkan kondisi lingkungan yang telah tercemar agar dapat kembali pulih dan dapat digunakan untuk kegiatan-kegiatan produktif. Hal ini dilakukan tanpa menimbulkan potensi pencemaran bagi manusia dan aktivitas di dalamnya.
Tujuan utama dalam pelaksanaan dari prinsip tersebut adalah mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah atau bahan pencemar pada sumbernya, serta menciptakan produk yang sehat, aman, dan berkualitas. Namun, ada juga enam prinsip dasar lain yang dilakukan dalam menejemen lingkungan yang bertujuaan utama sama dengan ketiga prinsip di atas, yaitu refine, reduce, reuse, recycle, recovery, danretrieve energy.

Refine adalah penggunaan bahan atau proses yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan atau proses yang ada saat ini. Reduce adalah pengurangan jumlah limbah atau kehilangan bahan dengan optimalisasi proses atau operasional yang menghasilkan limbah yang mengalami pemborosan. Reuseadalah pemakaian kembali bahan-bahan atau limbah pada proses yang berbeda. Recycle adalah penggunaan kembali bahan-bahan atau sumber daya untuk proses yang sama. Recovery adalah kegiatan pengambilan kembali sebagian material penting dari aliran limbah untuk pemanfaatan ulang dalam proses atau dimanfaatkan untuk proses atau keperluan lain. Retrieve Energy adalah pemanfaatan limbah untuk digunakan sebagai bahan bakar atau dalam arti yang luas adalah penghematan energi dalam proses produksi.

Pada prinsipnya, semua model atau prinsip dalam sistem menejemen lingkungan tersebut berupaya untuk meningkatkan produktivitas, menjaga keberlanjutan produksi dengan tetap memelihara kelestarian lingkungan dan kesehatan, serta keselamatan pekerja. Banyak sekali cara dan program yang dapat diterapkan sebuah industri dalam memenejemen lingkungan industrinya. Perlu adanya kesadaran dalam industri untuk melestarikan lingkungan.

Comments (0)

Tags: ,

Mahasiswa IPB penerima Penghargaan Ford Foundation

Posted on 27 May 2010 by Miftahgeek

Adalah
  1. Drh. Bambang Ngaji Utomo, M.Sc. (Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan)
  2. Ir. Bethsy J Pattiasina, M.Si. (Ilmu Perairan)
  3. Drs. Iwa Mara Trisawa (Entomologi)
  4. Ir. Kasutjianingati, M.Sc. (Agronomi)
  5. Rizal Alamsyah, MAppSc (Ketekhnikan Pertanian)
  6. Dr. Tyas Retno Wulan, M.Si. (Sosiologi Pedesaan).

Enam mahasiswa pascasarjana Institut Pertanian Bogor meraih penghargaan Ford Foundation melalui “The Indonesian Scholarship Dissertation Award” (ISDA) atas disertasinya yang dinilai inovatif dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Selain IPB, peraih penghargaan lain berasal dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan 5 penghargaan, Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan 4 penghargaan, Universitas Indonesia (UI) 2 penghargaan, dan Institut Teknologi Surabaya (ITS), UIN Sunan Kalijaga, Universitas Airlangga, dan IAIN Sunan Ampel masing-masing satu penghargaan.

Rektor IPB lebih lanjut mengatakan riset harus berdampak nyata bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hasil disertasi juga tidak hanya ditumpuk di rak perpustakaan, namun diwujudkan dalam paper dan publikasi jurnal.

IIEF (Yayasan Pendidikan Internasional Indonesia) adalah sebuah organisasi pendidikan yang bekerja sama dengan the Institute of International Education (IIE/ Institusi Pendidikan Internasional). IIE merupakan sebuah organisasi pertukaran pendidikan swasta nirlaba paling berpengalaman dan terbesar di dunia.

Siapa yang mau namanya tercantum pada pemberitaan ke gitu ke depannya ? *ngacungin jari duluan :)

Comments (7)

Tags:

Selamat Tinggal MPD

Posted on 26 May 2010 by Aha Gambreng

Selamat berjuang kawan-kawan!!!
Inilah kata terakhir yang aku ucapkan. Sesasat setelah aku memutuskan untuk keluar dari kepanitiaan masa perkenalan Depatemen, Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
MPD adalah Masa Perkenalan Departemen yang ada di IPB. Sebuah acara penyambutan mahasiswa ‘baru’ yang segera akan masuk ke jenjang fakultas. Khususnya masuk ke departemen. Setiap Perguruan Tinggi memiliki tradisi penyambutan mahasiswa baru masing-masing. Sehingga tradisi tersebut kini dikanal dengan nama yang mungkin sudah tidak asing. Seperti misalnya, Ospek, MOS, KOPD, dan lain sebagainya.
Inilah pertama kalinya aku mengundurkan diri dari kepanitiaan. Tidak pernah sebelumnya. Alasannya sederhana. Hanya pada ‘prinsip’. Awalnya memang sangat sulit. Berada dalam dua pilihan komitmen. Pertama adalah komitmen terhadap kepanitian tersebut. Dan yang kedua adalah komitmen pada prinsip pribadi. Bukan pilihan yang mudah. Namun semakin dalam dan semakin banyak pendapat yang keluar, maka semakin terbuka mataku untuk memilih.
Mengundurkan diri dari kepanitian adalah keputusanku. Malam itu, kulepas semua tanggung jawabku. Egios? Ya, inilah caraku untuk hidup. Karena ada kalanya aku hidup pada prinsipku. Dalam pikiranku, yang akan menjadi panitia untuk beberapa waktu ke depan adalah aku. Jadi, kenapa mesti aku paksakan untuk bertahan pada lingkungan yang aroma ketidaknyamanan sudah mulai tercium.
Tidak ada alasan real yang bisa aku jelaskan. Semuanya hanya pada perinsip pribadi. Sekali lagi perinsip. Jadi inilah jalan yang telah aku ukir. Maka biarkan aku berjalan di atasnya. Keberadaanku pada kepanitian itu, mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa.
Selamat Berjuang Kawan-kawan!!!


Comments Off

Advertise Here

RELATED SITES

Random Quotes