Archive | February, 2010

Tags:

KOREA ADDICT

Posted on 28 February 2010 by yuvita

oH my God!!

Help me guys.. I’m addicted to K-POP especially SHINee,  as u can see on my previous post. I wrote SHINee updates, n know I’m really update to them and K-POP too.

I don’t know why I think K-POP is great, they are just not singing but they are also dancing. And what I like the most is they are appreciate each other. Do you know star king? star golden bell? etc, every time the MC say Idol name for examples B.E.G Abracadabra *with songs BEG, another idol who surely know their song dancing reflexively follow B.E.G dance, they followed the development of K-POP itself.

B.E.G dance move

K-POP spread very rapidly not only in Korea but also abroad, for example in Indonesia, my country. WOW K-POP fans  starting from elementary to college like me. Not only Indonesia K-POP has been growth rapidly in USA too. I’ve read a tweet from Youtube Star-Aj Rafael is falling for K-POP Hahhahahah :) )

Beside listening to  K-POP song I also learned their dances. heheh and for now, I’ve mastered the T-ARA Bo Peep Bo Peep, SHINee ring ding dong * only in ring ding dong part*, SUJU * sorry sorry sorry again only on part-sorry *, Wonder Girl Nobody. Heheheh ..

T-ARA dance move

I LOVE K-POP <3 <3


Filed under: Life Tagged: B.E.G, dance, entertainment, K-Pop, Korea, Korea addict, Life, Music, Shinee, SNSD, Super Junior, T-ARA, Wonder girl

Comments Off

Tags:

PERTEMANAN ATAU PERSETERUAN POLITIK?

Posted on 28 February 2010 by sjafri mangkuprawira

 

        Kasus Bank Century ternyata berakibat melebar pada urusan politik praktis yakni pertemanan politik. Analoginya, sangatlah normal rasanya, tiap orang membutuhkan teman, termasuk saya. Teman sudah normatif menjadi kebutuhan. Butuh ketika ingin mencurahkan hati, saat butuh informasi, dan berbagi rasa bahagia, dan berempati duka. Dalam kesulitan yang dialami terkadang disampaikan kepada teman. Tukar pikiran pun tak luput perlu teman. Bahkan dengan teman kita sangat menikmati gurau gelak tawa. Sebaliknya ketika teman bersedih hati, kita harus bersimpati, berempati dan mendoakannya. Namun dalam perjalanannya bisa saja pertemanan individu mengalami pergesekan. Bisa berakhir damai dan bisa juga status quo dan bahkan buyar.

        Sosok seorang teman bisa jadi semakin menarik ketika melihat dari dimensi pertemanan dalam dunia politik. Ketika ada kepentingan, misalnya membangun koalisi partai, teman bisa diartikan seseorang yang mau mendengar dengan penuh simpati dan empati terhadap lawan komunikasinya. Kemudian di setiap diskusi topik pembicaraan dia mencoba mengomentari. Intinya, teman mampu membangun suasana komunikasi yang hangat dan harmonis. Ada timbal balik. Lalu muncullah suasana untuk terus mensuskseskan koalisi. Namun demikian mengapa tiba-tiba saja pertemanan kongsi politik cenderung akan menjadi buyar tidak karuan?

         Disinilah pertemanan politik tidak ada yang abadi. Termasuk juga perseteruan politik. Masing-masing bisa kental dan tiba-tiba saja bisa berantakan. Jadi yang bermain dalam pertemanan itu hanyalah pada konteks yang tak terduga-duga. Kalau saja pembagian kekuasaan sudah menjadi kesepakatan maka itulah kepentingan bersama. Tapi apakah kepentingan itupun bakal abadi?. No way, kata-kata pop. Kalau begitu apa unsur pokok yang menjadikan kongsi antarpartai terwujud? Yakni unsur kepentingan yang sifatnya sesaat dan bisa juga yang relatif permanen. Katakanlah selama lima tahun pemerintahan. Tapi apakah pertemanan seperti itu pun juga bakal permanen seterusnya?

        Simak saja ketika beberapa partai koalisi dalam Pansus Hak Angket DPR Kasus Bank Century dengan terang benderang mengungkapkan segala kelemahan kebijakan dana talangan (bail out) dan merger Bank Century. Dan tidak tanggung-tanggung menyebutkan nama-nama siapa yang paling bertanggung  jawab. Jelas saja fenomena ini merupakan “gempa” perpolitikan. Seolah telah terjadi pelanggaran etika politik perkoalisian.  Lantas partai Demokrat sebagai ”komandan” koalisi pun merasa gerah dan bahkan ”terhianati”. Dengan nada mengancam, partai ini mengganggap perlu presiden SBY  selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat melakukan kocok ulang kabinet. Nah lhooooo?

        Dalam situasi dimana masing-masing tokoh partai punya platform dan ide yang relatif sama maka cenderung perkongsian bisa solid. Namun coba saja dalam situasi dimana partai punya ide ”ditentang” oleh teman, maka itu sudah bakal menjadi indikasi siap-siap pertemanan akan terganggu. Apalagi kalau keseimbangan terusik oleh ketidaksetaraan posisi politik. Padahal itu sah-sah saja ketika suatu partai sebagai pemenang maka posisi rebut kekuasaan dalam tawar perkongsian pun akan dominan. Di sisi lain partai anggota koalisi bisa saja mundur dari perkongsian demi dignity/kemartabatan atau harga diri partai. Namun apakah kalau begitu tak perlu dituntut adanya etika politik secara taatasas? Normatifnya seperti itu. Tetapi seperti juga pertemanan maka adakah etika politik abadi? Wallahualam……

        Saya mengutip pendapat Aidh al-Qarni (La Tahzan-Jangan Bersedih, 2005); ketika Anda mendapatkan manfaat dari pertemanan dan merasa bahagia dengan perkawanan maka itu adalah kebahagiaan tersendiri buat Anda. ”Dimana orang-orang yang saling mencintai karena kebesaranKu? Hari ini, di hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Ku, Aku naungi mereka dengan naungan-Ku” (Al-Hadist). ”Dan dua orang yang saling mencinta karena Allah berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya”.


Comments Off

Tags:

Tak Ada Waktu Untuk Merenung

Posted on 27 February 2010 by Aha Gambreng

Bencana kembali datang menghampiri kita. Kali ini saudara kita yang berada di Desa Tenjolaya, Kelurahan Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu Ciwidey, menjadi korban. Untung direnungkan? saya rasa sudah habis waktu untuk merenung. Apa lagi yang harus kita renungkan. Haruskah kita terus-terusan merenung hingga kehancuran memporak-porandakan kita? takkan pernah kita mampu menaklukkan alam. semakin alam ditaklukkan. maka semakin dekat pembalasan alam untuk kita. Jadi, sudah saatnya sinergis dengan alam.


Comments Off

Tags:

URGENSI DALAM KRISIS

Posted on 25 February 2010 by sjafri mangkuprawira

 

         Dalam prakteknya urgensi bisa terjadi pada situasi apapun. Ia merupakan kondisi yang sifatnya temporer yang bisa disebabkan oleh adanya peluang atau kesempatan, ancaman, dan atau krisis (Timothy R.Clark,Epic Change, 2008). Suatu kesempatan merupakan tantangan yang bersifat adaptif; apakah yang tersembunyi atau di luar jangkauan. Tingkat urgensinya relatif paling rendah. Sementara, ancaman merupakan tantangan adaptif yang tampak dan dapat menekan atau mengganggu daya saing perusahaan. Derajad urgensinya termasuk medium. Sedangkan krisis merupakan tantangan adaptif yang tampak jelas dan keberadaannya sangat mengancam posisi daya saing perusahaan. Tingkat urgensinya paling tinggi.

         Pertanyaannya apa yang seharusnya dilakukan individu atau pimpinan organisasi, misalnya perusahaan, ketika faktor-faktor tersebut tak ada? Maksudnya, dapatkah perusahaan tetap memiliki urgensi ketika tidak ada peluang, ancaman atau krisis yang berkait dengan kepentingan perusahaan; ketika tak ada bahaya yang tampak atau kelihatannya tak ada untungnya? Bisa saja terjadi. Jiwa atau kebiasaan untuk menghadapi hal yang urgen dapat dipandang sebagai bagian dari budaya korporat. Sudah merupakan bagian dari perilaku perusahaan sehari-hari. Dengan demikian perusahaan akan selalu mengantisipasi permasalahan apapun yang terkait dengan bisnis. Semacam sudah terinternalisasi atau kebiasaan menelaah masalah-masalah di seantero dunia ini.. Jadi menurut paham ini urgensi tidak harus didasarkan pada latar belakang adanya kondisi darurat. Lalu apa implikasinya pada segi kepemimpinan?

         Ketika para pemimpin perusahaan dan perusahaan mereka terbiasa untuk mengadakan perubahan, mereka menjadi tersosialisasi untuk memercayai bahwa tantangan adaptif berikutnya adalah selalu berada di sekitar sudut perusahaan. Tanpa harus berada dalam situasi yang terancam, perusahaan akan selalu menunjukkan upaya terbaiknya. Tiada hari tanpa mengabaikan urgensi kalau perusahaan ingin selalu tampil dengan daya saing tinggi. Seperti yang diungkapkan Jack Welch,”Great leaders are constantly looking arround the corner, anticipating and smelling out issues” (Timothy R.Clark,Epic Change, 2008). Bisa diberikan contoh; Katsuaki Watanabe adalah CEO Toyota Motor Company. Meskipun Toyota hingga kini menjadi pabrik mobil terbesar di dunia, namun Watanabe secara taatasas tetap memiliki jiwa pentingnya urgensi. Dia begitu peduli dalam mempertahankan posisi daya saing tinggi, menjaga mutu, merekayasa proses, dan efisiensi produksi. Selalu tidak puas dengan apa yang ada. Dan selalu menghindari terjadinya status quo. Memang belakangan ini Toyota menghadapi masalah dalam produknya yang berarti urgensi seharusnya ditempatkan sebagai hal yang sangat penting.

         Urgensi ternyata dapat menjadi sumber enerji dalam memperlancar suatu proses perubahan. Namun di sisi lain, urgensi mampu membantu setiap manajemen puncak untuk menggerakkan perusahaan dari hanya sekedar berpikir ke berbuat sesuatu. Ketika setiap tahap proses perubahan terjadi maka disitu akan muncul kesempatan, ancaman, dan bahkan krisis. Proses perubahan bisa berjalan melambat, bisa berjalan di tempat, dan bahkan bisa cepat. Dalam ragam situasi seperti itu maka perusahaan yang memiliki daya saing tinggi selalu menempatkan pendekatannya pada sisi urgensi. Urgensi menjadi sumber enerji pokok suatu proses perubahan. Dari kekuatan untuk menggerakkan perusahaan dengan kegiatan hanya menganalisis kondisi perusahaan menjadi menganalisis bagaimana perusahaan harus melakukan aksinya. Tanpa urgensi suatu perusahaan tidak dapat melakukan perubahan yang berarti. Urgensi sudah menjadi kebutuhan setiap orang dalam perusahaan, sebagai dasar untuk berkembang lebih maju lagi.


Comments Off

Tags:

Selamat Menempuh Hidup Baru, Kawan!

Posted on 25 February 2010 by wongbagoes

Rasanya ingin sekali hadir dalam sukacita pernikahanmu kawan, namun hanya lantunan do’a dan ucapan selamat dari jauh yang bisa aku sampaikan. “Semoga Alloh SWT menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya berkenan meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikannya pembuka pintu-pintu Rahmat, sumber ilmu & hikmah serta pemberi rasa aman bagi ummat“ (Doa Rasulullah [...]

Comments Off

Tags:

Kenapa membahas Ventuz?

Posted on 24 February 2010 by asfarian

Tulisan ini masih merupakan lanjutan dari Ventuz : Masa Depan Dunia Presentasi. Berhubung masih ada satu bagian yang saya lupakan dalam tulisan tersebut, yaitu kenapa harus Ventuz? Paling tidak, inilah lima alasan kenapa saya memilih untuk membuat review tentang Ventuz.

1. Ventuz mampu memberikan antarmuka presentasi dalam bentuk tiga dimensi

Tiga dimensi di sini adalah dalam konteks sistem koordinat. Perangkat lunak presentasi yang ada umumnya hanya menggunakan koordinat cartesius dua dimensi, hanya ada sumbu x dan sumbu y. Singkatnya, kita hanya dapat menggerakkan objek secara vertikal, maupun horizontal saja. Objek yang dapat kita masukkan ke dalam presentasi pun terbatas pada objek dua dimensi saja (gambar dan video).

Ventuz menggunakan sistem koordinat tiga dimensi (sumbu x,y,dan z). Dengan demikian, selain dapat bergerak secara horizontal dan vertikal, objek juga dapat bergerak maju dan mundur. Penggunaan tiga sumbu koordinat ini memungkinkan presentasi dapat dibuat dengan lebih fleksibel. Ventuz pun mampu memasukkan objek model tiga dimensi ke dalam presentasinya.

Grafik tiga dimensi

2. Ventuz memberikan dukungan bentuk interaksi baru antara presenter dengan komputer

Jika Ventuz dikolaborasikan dengan perangkat keras yang mendukung, katakanlah, layar sentuh. Ventuz dapat memberikan sebuah bentuk interaksi baru dengan presenter. Presenter tidak harus menekan remote untuk meneruskan presentasinya. Hal ini, tentu saja, sangat bergantung pada dukungan perangkat keras yang digunakan.

3. Ventuz tidak mengenal batasan resolusi

Artinya, presentasi anda dapat ditayangkan dalam layar sebesar apapun tanpa perlu takut presentasi anda akan pecah (pixellate). Hal ini tentu akan sangat berguna jika anda melakukan presentasi dalam sebuah ruangan seluas lapangan sepak bola.

4. Tidak terbatas pada presentasi

Dengan kemampuan di atas, Ventuz tidak hanya dapat digunakan pada presentasi konvensional (ada layar, ada presenter, ada penonton). Ventuz juga dapat digunakan sebagai media informasi atau dalam pertunjukan seni.

Penonton dapat berinteraksi langsung dengan presentasi

5. Ventuz mampu memberikan WOW effect

WOW effect adalah sebuah istilah dalam dunia entertainment. Terjemahan mudahnya adalah ‘efek terkejut’ yang dirasakan oleh penonton saat kita melakukan presentasi. Jika keempat keunggulan lainnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh presenter, penonton akan kesulitan melupakan presentasi yang anda lakukan.

Itulah lima alasan yang dapat saya uraikan pada tulisan ini. Tapi tentu saja, ventuz memiliki kelemahan, yaitu sangat bergantung pada dukungan perangkat keras.

NB : Tulisan ini akan diupdate. Berhubung kuliah sudah mulai :mrgreen:


Comments Off

Tags:

SANG TELADAN DIGOYANG

Posted on 24 February 2010 by sjafri mangkuprawira

 

        Dunia politik dan dimensi teladan belakangan ini sedang mendapat perhatian serius. Fenomena politik bisa dengan bebas memertanyakan keteladanan sang maestro kampus. Dan dengan terang benderang yang bersangkutan diduga ada indikasi sebagai biang kerok terjadinya kebijakan pemerintah yang salah-keliru. Dari sana sini sang teladan gencar diobok-obok. Sang teladan berdiam diri dan pasrah. Kalau sudah begitu yang semula putih polos mulai ada goretannya. Dimensi tuntutan dunia politik sudah semakin melirik, menggoda dan bahkan mengancam sang teladan. Tentu saja semakin dilihat semakin prihatin menambah goretannya sehingga akhirnya tak jelas lagi warna putih, kelabu, atau hitam.

        Dalam kondisi seperti inilah, seteladan apa pun seseorang jika keimanan dan ketaqwaan tidak kuat, tidak paham lika-liku birokrasi dan politik yang banyak tikungan dan jebakan maka akhirnya akan jatuh ke jurang yang dalam. Goretan sudah menjadi luka terinfeksi (busuk) yang meluas ke seluruh jasmani dan rohaninya. Saking parahnya, yang bersangkutan harus mundur dari arena kekuasaan karena tuntutan politik dan bisa jadi tuntutan hukum. Ketika itu terjadi, tidak ayal lagi fenomena bungkuk-bungkuk dari bawahan pun hilang berubah menjadi tegak kembali sambil mengumpat, upeti berhenti seketika dan bahkan orang pun enggan menyapa. Aneh tetapi nyata malah mereka semakin menjauh.Tetapi bisa jadi muncul simpati dan kesedihan di raut muka para kolega dan subordinasinya.

        Lalu siapa yang salah dan apanya yang keliru?. Secara sistem, jika satu orang berbuat salah maka lingkungannya, khususnya lingkaran dalam, juga seharusnya ikut keliru karena telah berdiam diri atau tidak mengingatkan superordinatnya. Namun sistem yang ada membuat siapa pun tidak berani menegur sang bos selaku penguasa. Kalau sudah begini orang sering menyalahkan bahwa persoalan ini “seperti benang kusut” atau  “seperti lingkaran setan”. Padahal setan ngga salah .

        Bahkan konon ada yang bilang, sambil bergurau, setan pun sudah sulit melaksanakan TUPOKSI (Tugas, Pokok dan Fungsi)nya sebagai penggoda manusia. Dan pernah terbersit di hatinya untuk “minta pensiun” dini karena yang digoda (manusia) sudah lebih canggih memilih dan melakukan dosa (yang dulu mereka hindari). Lalu siapa yang layak disalahkan?, Jadi lebih baik kalau ada yang salah atau keliru jangan salahkan lingkaran setan tetapi lebih tepat disebut “lingkaran manusia saja”. Yang alpa diri akan kelemahan dan ketidakberdayaannya………


Comments Off

Tags:

Tweet Kontroversial Mario Teguh: Wanita Perokok Tak Layak Dijadikan Istri

Posted on 22 February 2010 by Aha Gambreng

Tweet Moivator ternama, Mario Teguh menuai banyak protes dari wagra twetter.” Wanita yg pas u/ teman pesta, clubbing,brgadang smp pagi,chitchat yg snob,mrokok,n kdang mabuk – tdk mungkin direncanakn jadi istri” itulah yang di ungkapkan Mario dalam tweenya. Namun, dari hasil survei detik.com (22/02/2010/10.30), ternyata 75% pengunjung menyatakan “pro” terhadap pernyataan mario teguh tersebut. Pasalnya, untuk membangun sebuah bahtera rumah tangga siapapun ingin mendapatkan pendamping yang terbaik.


Comments Off

Tags:

NIAT DAN MOTIF BEKERJA

Posted on 21 February 2010 by sjafri mangkuprawira

 

        Katakanlah ada pernyataan seorang manajer kepada subordinasinya bahwa “aku tahu dan anda pun tahu”. Jadi manajer dan subordinasinya sama-sama tahu akan semua segi tentang pekerjaan. Kalau begitu maka dalam melaksanakan tugas unit kerja semuanya bakal beres. Tak ada masalah. Tak ada unsur yang menghalangi. Yang ada saling mengerti, saling berkomunikasi efektif, dan saling kerjasama dan memerkuat. Maka kinerja unit pun akan tercapai sesuai standar. Benarkan selalu seperti itu? Tidak demikian.

        Pernyataan di atas hanyalah sebatas proposisi saja. Sama-sama tahu tidak otomatis sama-sama pula dalam hal derajat pemahaman, sikap,dan ketrampilan akan suatu pekerjaan. Apalagi tentang kinerjanya. Sama-sama tahu boleh jadi hanya sebatas konteks domain pengetahuan atau kognitif. Sementara dalam domain afektif atau sikap dan ketrampilan memiliki perbedaan. Karena itu walau sama-sama tahu namun belum tentu dibarengi dengan koordinasi pekerjaan yang efektif. Hal ini sangat berkait dengan persyaratan pentingnya kompetensi individu khususnya dalam hal sikap bekerja.

        Kompetensi individu tidak saja diindikasikan penguasaan tingkat pengetahuan. Ketika seseorang akan melaksanakan suatu pekerjaan maka keberhasilannya tidak lepas dari faktor niat atau motif mengapa dia bekerja. Kalau dia memiliki kekuatan tinggi dalam hal niat seperti motif, watak, dan konsep diri maka umumnya diikuti dengan kemampuan mengelola diri. Semakin tinggi kemampuan mengelola diri dicirikan dengan semangat bekerja dari seseorang yang semakin tinggi pula mutu proses pekerjaannya; ceteris paribus. Karena itu apa yang harus dilakukan manajer agar subordinasinya memiliki niat dan semangat tinggi melaksanakan pekerjaannya?. Artinya bagaimana subordinasi mampu melakukan perbaikan kinerja terus menerus agar diperoleh capaian standar bersaing.

         Membangun niat karyawan untuk mau bekerja keras dan cerdas tidak semudah mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan kerjanya. Niat karyawan merupakan unsur watak untuk menentukan seberapa jauh dia siap mau bekerja dengan sungguh-sungguh. Unsur watak secara signifikan berkait dengan pembentukan sikap. Unsur ini tidak mudah diamati karena kerap tersembunyi. Sementara derajat pengetahuan dan ketrampilan mudah diamati dan sifatnya lebih terbuka. Namun bukan berarti membangun watak tidak perlu dilakukan. Walau prosesnya jauh lebih panjang ketimbang membangun tingkat pengetahuan dan ketrampialn, namun niat atau motif seseorang bisa dibangun dengan efektif.

        Hal yang pertama perlu dibangun adalah dalam hal kesamaan pandangan filosofis tentang makna bekerja. Karyawan sejak awal mulai bekerja dikembangkan dan dibina pemahamannya tentang makna bekerja, visi dan misi organisasi, dan peran sumberdaya manusia dalam mengembangkan organisasi. Selain itu perusahaan perlu melakukan program orientasi pekerjaan dan hubungan sosial secara intensif bagi para karyawan baru. Orientasi ini diperlukan agar karyawan lebih memahami dunia nyata tentang pekerjaan. Selain itu sebagai individu sosial mereka tak mungkin hidup bermakna kalau tidak melakukan hubungan sosial dengan sesama individu lainnya. Sekaligus dari mendengar, melihat dan melaksanakan langsung suatu pekerjaan akan menumbuhkan motif dan motivasi kerja karyawan.

         Sementara itu fungsi kendali dan pengawasan oleh manajer akan lebih memerlancar lagi pembentukan niat atau motif karyawan untuk bekerja dengan semakin kuat lagi. Kalau dilakukan secara terprogram, lama kelamaan fungsi itu semakin diperkendor sejalan dengan semakin bertumbuhnya motivasi bekerja dari karyawan. Salah satu bentuk pengakuan adalah pemberian otonomi pengambilan keputusan untuk beberapa persoalan pekerjaan tertentu. Dengan demikian untuk meningkatkan kinerja karyawan dan organisasi tidak hanya dibutuhkan pengetahuan yang mendekati sama di antara karyawan dan manajer tetapi juga dalam hal niat dan motif semangat kuat dari semua unsur pelaku organisasi.


Comments Off

Tags:

Indonesiaku Tenggelam

Posted on 20 February 2010 by ahnku


diambil dari kompas.com

Inilah, sebuah gambaran negaraku kini. Tak hanya tenggelam dari air yang saat ini menyerang beberapa wilayah di Indonesia. Kini negaraku juga ramai dengan kasus-kasus yang menenggelamkan moral. Penyalahgunaan facebook, kasus century, penjara exekutif, dan banyak hal lain.. mari kawan, gerakan dari bawah ke atas adalah satu-satunya yang dapat merubah negara ini… Banjir sudah sepunggung.. sedikit lagi akan menenggelamkan Indonesia.

Comments Off

Advertise Here

RELATED SITES

Random Quotes