Antara Pengemis, Tukang Ojek, & Bus IPB
Ditulis oleh aha_gambreng [Blogger IPB] · December 22, 2009
Ini cerita ketika salah satu mahasiswa bangun kesiangan. Hari senin beberapa waktu lalu. sata itu kuliah masuk pukul 08.00 dan baru berangkat dari kosan pukul 07.50. ruangan kuliahnya adalah di daerah yang cukup plosok di IPB. RK Wisma Pinus. Dengan semangat mahasiswa, langkah kupercepat. sambil berjalan cepat, tangan kananku mengocek kantong menyediakan uang 2.500 dengan niat akan di’ikhlaskan’ ke tukan ojek. Langkah semakin cepat dan semakin dekat dengan berlin, markasnya tukang ojek yang mencari mangsa di pagi hari.
Akhirnya langkah tiba di berlin. Perlahan kaki diangkan membebaskan diri dari cengkraman Bara dan bateng. Wushh…. semua diam sesaat. Uang 2500 di genggaman tangan kanan berteriak. “kemana aku akan di berikan?” seolah dia bertanya. Di hadapanku langsung terlihat tiga pilihan. semua berjejer memberikan pilihan kepadaku. lapis pertama adalah rombongan tukang ojek yang mereka masih terlihat kekar menghadapi hidup. lapis kedua adalah seorang ibu yang memegang kropak di tangannya dengan wajah penuh harap diberikan sumbangan. muka yang sudah tidak begitu tegar malawan kejamnya kehidupannya. dan jauh di depan sana sebuah bus IPB sedang parkir dan siap mengantarkan mahasiswa ke tempat kuliahnya masing-masing.
Hasilnya, jiwa iseng ku muncul… iseng2 iseng aku mikir, kemana 2500 itu akan ku gunakan,,,, karena dalam kondisi saat ini ada 3 kemungkinan dan tiga konsekwensi:
1. Uang 2500 di berikan kepada tukang ojek, dengan keuntungan yang kudapatkan adalah bisa sampai di tempat kuliah tidak “terlalu” terlambat. (tapi terlambat juga). namun artinya aku akan membiarkan ibu tua itu mengambil rizkinya dari orang lain yang aku khawatir jika semua mahaiswa berfikiran sama denganku. apa yang akan dimaka ibu dan anaknya sore ini?
2. Uang tersebut aku berikan kepada ibu tersebut dengan konsekwensi aku harus jalan kaki ke tempat kuliahku yang cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. pasti aku akan terlambat tiba di ruang kuliah.
3. atau aku tidak perlu memberikan uang tersebut kepada siapapun, dengan aku naik bus IPB yang akan mengantarku sampai FPIK dan jalan kaki ke tempat kuliah dengan jarak yang juga tidak terlalu dekat.
Pokonya… hanya satu pilihan yang mungkin membuatku tidak terlalu terlambat hari itu. yaitu pilihan pertama.
Saat itu lah sebuah pikiran usil melintas. Bagaimana mungkin di Area KAMPUS sebesar IPB dengan jumlah mahasiswa lebih dari 10.000 orang, masih mungkin ada seorang ibu tua yang mencari nafkah dengan cara mengemis? tidakkah ada 1 dari ribuan “KAUM INTELEKTUAL” itu yang berusaha untuk meberdayakan orang-orang seperti ibu tua itu? pertanyaan aneh yang aku sendiri mungkin tidak dapat menjadi satu orang tersebut. Padahal, jika 10.000 mahasiswa tersebut ikhlas menymbangkan Rp. 1000 per bulan dan ada satu orang atau lembaga yang mengelolanya. orang-orang yang senasib ibu itu di IPB mungkin akan bernasib lebih baik. karena ada lebih dari Rp. 10.000.000,- uang yang terkumpul setiap bulan. angka yang tinggi untuk memberdayakan orang-orang seperti ibu tersebut. Tapi ini mungkin hanya khayalan usil saja. semoga superman yang ditunggu-tunggu itu segera hadir.
Oke… berlanjut ke cerita.. setelah menimbang dan memikirkan dengan matang. akhirnya, apa keputusan yang kuperbuat? saya rasa jawabannya cukup saya saja yang tau. yang pasti saya telah memilih satu dari ketiga pilihan tersebut, dan saya tidak terlambat masuk ke ruangan kuliah. (aha_gambreng)
Posted by aha_gambreng. Tulisan lainnya...- Kontroversial Pra MPF - July 27th, 2010
- Raksasa Teknologi 2010 - May 30th, 2010
- Arena Out Bound IPB - March 20th, 2010
Comments
5 Responses to “Antara Pengemis, Tukang Ojek, & Bus IPB”
Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!




sebuah pilihan memang, apapun itu. tapi kalo ditambahin satu asumsi lagi seperti toleransi keterlambatan 15 menit setelah dosen masuk, mungkin ada alternatif lain, seperti kombinasi “ngasih uang trus naik bus”, saya pikir masih ada waktu….^^.
*untuk ide terakhir mungkin anda bisa jadi pioner…:)
sebenarnya seh masalahnya bukan di 2500 nya,, tapi.. saya pengen superman itu muncul dengan adanya tulisan ini… tau aja komunitas bloger bisa jadi pemerakarsanya…
yep yep yep…. kadang suka heran juga, di lingkungan intelektual gini masih ada aja yang mencari “nafkah” dengan cara yang kurang dibenarkan seperti itu.
Paling tidak kita bisa memberdayakan mereka…
saya setuju dengan ide yang terakhir, berdayakan. Tapi pendapat mbak nurulishlah juga bagus…. ^^
klo saat ini, jarang mengambil salah satu dari 3 pilihan tsb, alesan.. masuk kampus gak lewat tempat yang ada tukang ojek, pengemis ataupun bis
@mas nurussadad: Haha… Like this lah