Menjadi sebuah World Class University adalah cita-cita dan keinginan banyak universitas di berbagai negara. Hal ini mendorong berbagai universitas untuk melakukan terobosan di berbagai bidang mulai dari kualitas mahasiswa dan dosen, peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan jumlah riset dan penelitian, peningkatan sarana dan prasarana, hingga peningkatan penggunaan teknologi secara masif. Kondisi ini membuat persaingan antar kampus semakin ketat, persaingan tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga antar negara.
Institut Pertanian Bogor yang mempunyai visi menjadi universitas riset terdepan dalam bidang pertanian tropika, juga telah melakukan upaya untuk menjadi bagian dari World Class University. Namun, demikian pemanfaatan teknologi informasi untuk menunjang kegiatan akademik dirasa sangat kurang. Sehingga beberapa lembaga pemeringkat menempatkan IPB tidak dalam peringkat yang terbaik.
Teknik pemeringkatan universitas di dunia ada banyak sekali, salah satunya adalah Webometric. Dalam pemeringkatan versi Webometric kebanyakan mengambil faktor “kehidupan” universitas di dunia Internet. Termasuk didalamnya adalah aksesibilitas dan visibilitas situs universitas, publikasi elektronik, keterbukaan akses terhadap hasil-hasil penelitian, konektifitas dengan dunia industri dan aktifitas internasionalnya. Dalam publikasi yang dikeluarkan bulan Januari 2009 Webometric menempatkan IPB di peringkat ke-2063 dunia atau peringat ke-8 Indonesia.

Sedangkan publikasi yang dikeluarkan terbaru (Juli 2009) dari Webometric menempatkan IPB di peringkat 9 universitas di Indonesia dan tergeser oleh Universitas Airlangga dan Universitas Sebelas Maret. Namun yang cukup mencengangkan IPB melorot 152 tingkat dalam peringkat dunia. Secara umum peringkat universitas di Indonesia ada yang naik dan ada pula yang turun. UGM, Univ. Petra, Univ. Gunadarma, dan UNS mengalami peningkatan. Sedangkan ITB, UI. IPB dan Unibraw mengalami penurunan.

Penurunan ini menempatkan IPB ke peringkat 2215 dunia. Sebuah hadiah yang kurang mengenakkan di tengah-tengah upaya untuk menjadi salah satu World Class University yang terdepan. PR besar menanti DKPSI sebagai lembaga pengampu dalam pengelolaan teknologi informasi di IPB. Namun PR ini bukan milik IPB saja tetapi juga seluruh civitas IPB.
Lantas apa yang bisa dilakukan?
Dalam pemeringkatan Webometric, setidaknya ada 4 hal yang harus diperhatikan:
-
Visibility (V): Jumlah total tautan eksternal yang unik yang diterima dari situs lain (inlink), yang diperoleh dari Yahoo Search, Live Search dan Exalead.
-
Size (S): Jumlah halaman yang ditemukan dari empat mesin pencari: Google, Yahoo, Live Search dan Exalead.
-
Rich Files (R): Volume file yang ada di situs Universitas dimana format file yang dinilai layak masuk di penilaian (berdasarkan uji relevansi dengan aktivitas akademis dan publikasi) adalah: Adobe Acrobat (.pdf), Adobe PostScript (.ps), Microsoft Word (.doc) dan Microsoft Powerpoint (.ppt).
-
Scholar (Sc):
Google Scholar menyediakan sejumlah tulisan-tulisan ilmiah (scientific paper) dan kutipan-kutipan (citation) dalam dunia akademik. Data Sc ini diambil dari Google Scholar yang menyajikan tulisan-tulisan ilmiah, laporan-laporan, dan tulisan akademis lainnya.
Dari ke empat hal tersebut, visibility merupakan peyumbang skor terbesar dengan persentase 50% dari keseluruhan total penilaian. Artinya dibutuhkan tautan/link yang mengarah ke situs IPB sebanyak-banyaknya. Hal ini juga harus didukung oleh kemantapan situs IPB untuk bersaing dengan website universitas lain. Mulai dari berfungsinya seluruh link di situs ipb, kelengkapan publikasi ilmiah (perpustakaan IPB yang seharusnya mengambil peran), keaktifan Departemen, unit kerja dalam mengelola website dan “sebaiknya” tidak seperti website LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) yang menginduk ke rumahkucing.com menajdi http://lppm.rumahkucing.com. , dan juga peran lembaga kemahasiswaan IPB. Dan gelar Lomba Web Lembaga Kemahasiwaan yang digelar patut kita dukung. Hayo, departemen atau lembaga kemhasiswaan mana yang belum punya web? (AN)