Helsiny
Ditulis oleh mashadeku [Blogger IPB] · April 26, 2009
“Ziz, ingat ya. Nanti malam ada acara besar di Pesantren. Jadi nggak usah kemana-mana.” Pesan bunda padaku.
Sudah menjadi sebuah tradisi pesantren. Setiap akhir tahun pelajaran ada sebuah acara besar. Namanya akhirussanah. Semacam perpisahan dilingkungan kaum santri. Seperti nanti malam. Acara tersebut dikonsentrasikan di halaman depan pesantren.
Dunia pesantren memang penuh dengan keindahan. Hampir semua hidupku ada di tempat ini. Meski selama tujuh tahun aku berada di negeri orang, tapi aku sering sekali rindu pada pesantren ini. Khususnya pada bunda yang tidak lain adalah bu nyai.
Sebenarnya menyandang status sebagai anak seorang kyai amat berat kurasakan. Apalagi selefel Kyai Abdul Hadi yang tidak lain adalah abahku sendiri. Seorang abah sekaligus kyai yang sangat sabar, baik terhadap keluarga atau santri dan umatnya.
Setiap menjelang ramadhan aku sempatkatkan ziarah ke Taj Mahal. Sebuah masjid suci bukti kecintaan sang raja terhadap istrinya Mumtaz Mahal. Di sudut masjid itulah aku panjatkan doa bagi bunda dan abahku. Tidak terkecuali pada ketiga kakak dan satu adikku. Ritual ini selalu aku lakukan selama tujuh tahun di Agra.
Kejadian yang tidak akan terlupakan adalah ketika pertama kali aku di Taj Mahal adalah keindahan bangunan arsitekturnya. Begitu indah dan mempesona. Didukung oleh aliran-aliran sungai yang tertata cantik. Semua orang pasti jatuh cinta.
Dan satu minggu lagi memasuki bulan ramadhan. Inilah uniknya sistem pembelajaran di dunia pesantren. Kenaikan tingkat di pesantren pada awal bulan ramadhan. Hal itu ditandai dengan acara akhirussanah seperti ini.
“Bunda kira-kira siapa ya lulusan terbaik tahun ini. Ko kayaknya diam-diam saja, tidak seperti biasanya?” tanyaku pada bunda yang sedang sibuk mempersiapkan tetek bengek acara. “Lho kata siapa biasa-biasa saja. Justru akhirussanah kali ini lebih istimewa dari tahun-tahun kemarin.” Jawab bunda ketus. “Ah masa bunda?” Tidak kalah ketusnya jawabanku. “Wah belum tau ya. Nanti Kyai Sobari hadir secara khusus ke pesantren kita. Soalnya putri beliau tahun ini lulus khafidhah. Bahkan lulusan terbaik loh, Aziz.” Terang bunda padaku. “Wah bagus kalau begitu, Bun.” jawabku seadanya. Akupun pergi meninggalkan kerumunan kaum ibu.[bersambung]
by: Adi Dzikrullah [mas jombang]




Comments
Feel free to leave a comment...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!